13 June 2013

Aku Ingin Jogja (Kembali) Berhati Nyaman


Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu
Masih seperti dulu, tiap sudut menyapaku bersahabat penuh selaksa makna
Terhanyut aku akan nostalgi saat kita sering luangkan waktu
Nikmati bersama suasana Jogja.
Kla Project, Yogyakarta.



Lirik lagu legendaris ini sering terngiang di telinga. Dahulu sekali, sekitar lima belas tahun lalu, saat itu saya masih sekolah di kampung halaman di Lampung Tengah. Saya sempat membayangkan bagaimana ya kalau saya bisa sekolah di Jawa, pasti keren. Apalagi bisa sekolah di Jogja, gudangnya orang pinter. Punya banyak teman yang pinter-pinter. Bisa jalan-jalan. Ah asyiknya....

Empat tahun kemudian, saya berkesempatan melanjutkan studi di Fak. Syariah IAIN Walisongo Semarang. Senang sekali rasanya bisa menjadi mahasiswa dan bisa studi lanjut di Jawa. Bagi warga kampung kami, itu sangat keren. Saat itu, selesai mengikuti orientasi mahasiswa baru diwajibkan untuk ikut study tour. Dan.. yolla. Tujuannya adalah Jogja. September 2004 adalah kali pertama saya menginjakkan kaki di Bumi Ngayogjokarto.

Ah... Gimana gitu rasanya. Saya sangat terkesan dengan pantai Parangtritis dan pedestrian Malioboro. Sayangnya, lantaran waktu itu saya bersama rombongan 17 bus, jadi saya tidak bisa benar-benar lepas dan bebas dalam menikmati detil sudut-sudut cantik Kota Jogja. Waktu kunjungan pun hanya sehari semalam yang dibagi di banyak tempat. Yang didapat malah rasa capai. Tentu saya merasa ada yang kurang. Ada semacam hutang yang harus dilunasi. Ada sejenis kerinduan yang harus dituntaskan.

Tiga tahun berlalu. Tahun 2007 adalah tahun-tahun paling intens antara saya dan Jogja. Kegiatan di pers kampus dan beberapa organ membuat saya punya banyak alasan untuk bisa berdekat-dekatan dengan Jogja. Main-main ke teman-teman PPMI (Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia) Dewan Kota Jogja. Main-main ke komunitas penulis, ke komunitas Jaringan Islam Kampus Jogja, hingga mencari percetakan untuk mencetak majalah kami. Mulai dari sinilah saya bisa merasakan denyut nadi Ngayogjokarto. Kerinduan sedikit terobati, tapi ketika meninggalkan Jogja dan bertolak ke Semarang, kerinduan itu semakin membuncah. Saya harus menetap di sini, di Jogja, tekad saya waktu itu.

Segera saya selesaikan studi S1 di IAIN Walisongo dan langsung hijrah ke Jogja. April 2009 saya mulai kos di Mangunegaran. Ini tempat yang sangat sangat strategis: di jeron beteng, dekat ke alun-alun, kraton, malioboro, museum, taman sari, taman pintar, shopping center, TBY, dan banyak tempat eksotis lain di sekitar sini bisa dijangkau dengan jalan kaki. Beberapa waktu kemudian, saya terlarut dengan nadi Jogja, dengan geliat seninya, dengan geliat sastranya, geliat budayanya, geliat intelektualnya, juga geliat dunia perbukuannya.


Degradasi
“Kamu telat, Nas. Coba kamu datang ke Jogja 3 atau 4 tahun yang lalu. Kamu bakal menemukan lebih banyak komunitas seni, komunitas budaya, komunitas epistemik yang sangat-sangat hidup. Sekarang sudah langka, Nas.” Begitu kata kawan lama saya yang kini sudah lebih dari 13 tahun tinggal di Jogja dan baru saja menyelesaikan studi S2 di IRB Sanata Dharma. Saya agak sedih dan mencoba menghibur diri. Menurut saya, jika dibandingkan dengan daerah lain, di Jogja masih ada banyak komunitas epistemik yang hidup. Dan yang paling penting adalah iklim Jogja masih sangat mendukung dunia kreativitas, dunia komunalitas.

Sedihnya, empat tahun selama saya tinggal di Jogja, saya mulai merasakan bahwa apa yang dikatakan teman saya itu ada benarnya. Perlahan demi perlahan, saya mulai merasakan bahwa komunitas diskusi yang agak ngilmiah semakin sedikit. Saya tanyakan ke kawan-kawan yang lain. Mereka mengamininya. Kegiatan budaya memang masih banyak dilakukan, tetapi intensitasnya, orientasinya tidak sekental beberapa tahun yang lalu. Dan orientasi kegiatan ini mulai banyak yang berorientasi pada logika kapital.

Iklim Jogja yang dulu ramah mulai bergeser. Ruh Jogja yang berhati nyam-nyam, eh nyaman mulai terasa sesak dan sumpek. Apa ini hanya perasaan saya saja? Atau memang begitu adanya? Saya sempat bertanya-tanya kepada kawan kantor saya yang lahir dan hidup di Jogja. Malangnya, ia mengamini hal ini. Hmm....


Publik vs Privat
Jika kita lihat akarnya, maka sesungguhnya ketidaknyamanan di Jogja ini terjadi lantaran adanya pergeseran di kalangan masyarakat Jogja dalam ranah publik vs privat. Dulu, dimensi publik dirayakan bersama-sama sekaligus untuk mengembangkan ranah privat. Pendulum selalu berayun ke arah publik. Yang didahulukan adalah wilayah publik, kalaupun ada keuntungan yang bersifat privat, ya itu sebagai bonus atau konsekuensi saja. Tetapi sekarang tidak lagi. Pendulum berayun ke arah privat. Domain privat mulai merangsek, mengalahkan domain publik. Iya kan?

Dulu, basis interaksi manusia Jogja adalah kemanusiaan. Maka kita mengenal kredo migunani tumraping liyan, memberikan manfaat kepada orang banyak. Tetapi kini, kredo ini mulai ditinggalkan perlahan. Bagaimana kita membacanya? Gampang saja. Mari kita perhatian ruang-ruang publik di Jogja: mulai dari jalanan dan sekitarnya, hingga alun-alun. Logika kapital demi keuntungan privat lebih menonjol ketimbang logika publik.

Coba perhatikan jalanan Jogja. Kini sepeda motor dan city car berebut jalan, merangsek dan merampas jalur dan tempat pemberhentian sepeda onthel di lampu merah. Dulu, alun-alun adalah ruang publik yang bebas dimanfaatkan oleh masyarakat luas. Sekarang memang masih dibisa digunakan oleh publik, tetapi makin sering dikapling-kapling untuk kepentingan privat para pengusaha TV untuk siaran langsung, pengusaha rokok, EO pertunjukan, tukang parkir, pedagang pakaian. Bahkan acara sekaten lebih kental logika bisnisnya ketimbang logika perayaan pasar (ruang) publik.

Sekarang kita agak minggir dari tengah jalan. Entah berapa puluh kilometer trotoar yang diduduki secara sepihak lalu beralih fungsi menjadi etalase para pedagang, mulai dari pedagang HP, pulsa, pedagang buah, sampai menjadi lahan parkir sepeda motor. Bahkan parkir sepeda motor tak jarang memakan bahu dan badan jalan yang seharusnya adalah ruang publik yang tidak boleh dikapling-kapling. Hak-hak pengguna jalan dan pejalan kaki terampas di sini. Sekali lagi, logika privat-ekonomi menjadi panglima, mengalahkan logika publik komunalitas sosial.

Naik dari trotoar, ruang beberapa senti meter di atasnya sudah penuh dengan spanduk, baliho, rontek, papan nama, dan iklan, bahkan rambu-rambu penunjuk jalan pun sudah dikapling dan dijadikan space iklan. Teror visual merebak di mana-mana. Kepentingan warga Jogja dan pelancong untuk memanjakan matanya dengan kesejukan dan eksotisme Jogja diteror oleh bombardir iklan dan media luar ruangan. Tiang traffic light dan median jalan tak luput dari serangan poster iklan, mulai dari jasa sumur bor, kuras WC, jasa skripsi, sampai jasa telat bulan.

Sedikit mundur 1-2 meter di belakang trotoar, kita akan mendapati tembok-tembok kota. Dulu, tembok ini bersih. Kalaupun ada, paling dimanfaatkan oleh warga kota untuk menumpahkan ekspresi seni dan keindahan, menambah kesan indah kota. Tapi kini, tembok-tembok kota telah menjadi lahan rebutan dua kelompok besar. Pertama, warga kota yang sakit hati dan termarjinalkan sehingga menumpahkan sakit hatinya dengan mencoret-coret tembok kota. Selain ingin menunjukkan eksistensinya, vandalisme ini juga meneror warga, seakan mereka tak rela jika warga kota lain merasakan kenyamanan Jogja. 

Yang lebih memprihatinkan adalah bahwa komunitas warga sakit hati ini tidak tunggal. Buktinya apa? Ada banyak jejak-identitas yang berbeda yang seakan saling unjuk eksis di tembok-tembok kota. Seolah menunjukkan kepada warga kota, bahwa saya eksis di wilayah ini. Bahwa saya juga eksis di situ juga. Kamu jangan macam-macam di sini ya.

Pihak kedua yang juga turut mengangkangi tembok kota adalah pengusaha dengan logika ekonomi privatnya: menempelkan poster atau mural iklan produk dan jasa mereka di sana, mulai dari iklan acara musik hingga operator layanan komunikasi seluler. Pemasangan poster dan mural iklan ini selain melanggar hukum, menabrak hak pemilik tembok (jika rumah), juga lebih sering tidak mengindahkan keindahan. Kasus mural iklan Ax*s jembatan Kewek yang adalah benda cagar budaya, misalnya.



Jembatan Kewek, Sumber: http://www.urbancult.net/tag/iklan/
Turun dari trotoar kita akan melihat kesenjangan warga Jogja yang sangat menganga. Mungkin Anda bisa mengatakan di sinilah uniknya Jogja, ketika Alphard bersanding dengan sepeda onthel berkeranjang tua di jalanan. Mungkin saat ini kesenjangan perekonomian ini tidak begitu dipermasalahkan, tetapi jika tidak segera diambil tindakan, maka bukan tidak mungkin ke depan akan menjadi bom waktu. Di dekat kontrakan saya, di Jogokarian, misalnya, kalau malam mulai ada beberapa mobil yang parkir di badan jalan depan rumah. Jumlahnya makin meningkat dari waktu ke waktu. Bagaimana 10 tahun ke depan? Mungkin jalan kampung itu sudah jadi lahan parkir, dan pasti akan muncul konflik horizontal.

Di jalanan, kita sekarang bisa melihat bahwa jam berputar sangat kencang. Entah apa yang dikejar, saban pagi, kecepatan sepeda motor semakin meningkat dari waktu ke waktu. Dan tumpukan sepeda motor di depan traffic light itu akan menjelma koor klakson ketika angka merah mulai mendekati angka 3 dan lampu hijau hendak menyala. Maka menyalaklah puluhan klakson di situ. Ketika lampu kuning menyala, bukan kemudian berhati-hati. Sebaliknya, mereka malah mengencangkan laju kendaraan agar tidak terkena lampu merah.

Empat tahun yang lalu, selama saya tinggal di Mangunegaran Kulon, nyaris tidak pernah terdengar suara motor kebut-kebutan atau klakson bersahut-sahutan di jeron beteng. Kini, suara lomba klakson, knalpot terbuka yang meraung-raung, serta kebut-kebutan menjadi keseharian di sekitar plengkung Gading dan plengkung Wijilan pada jam-jam ramai.

Empat tahun lalu, saya sering memperhatikan, sepeda motor yang tidak sabaran, suka kebut-kebutan itu selalu bernomor polisi luar kota. Kini, rupanya plat AB sudah terlatih kebut-kebutan, main serobot jalan, dan adu keras suara knalpot.

Empat tahun lalu, saya enjoy nongkrong di plengkung Gading malam-malam. Kini, saya risih ke sana. Makin banyak remaja yang pacaran kelewat batas dan beberapa ada yang mabuk. Sampai-sampai di situ dipasang papan larangan berbuat mesum dan minum minuman keras. Empat tahun lalu, saya enjoy jalan-jalan malam dari Mangunegaran ke Krapyak dan sepanjang jalan lampunya terang. Kini, sudah lebih dari setahun puluhan lampu taman mati dan tak pernah ada kabar akan diperbaiki.

Di media masa, dulu headline selalu dihiasi dengan berita yang menyejukkan, misal himbauan Sultan, atau berita kesuksesan mahasiswa UGM. Tapi kini, headline media massa di Jogja lebih sering dihiasi dengan berita kriminal dan kecelakaan dan terkesan dibesar-besarkan. Bukannya saya ingin agar media menampilkan yang bagus-bagus saja, tetapi mohon agar media tidak membesar-besarkan hal yang negatif itu.

Begitulah Jogja. Sudah berubah. Kini, meski saya masih di Jogja. Saya makin kangen dengan suasana Jogja 4 tahun yang lalu. Makiiiinnnn kangen dengan Jogja 6 tahun yang lalu, dan jauh lebih kangen dengan Jogja 10 tahun lalu. Dan suara Katon kembali terngiang. Terhanyut aku akan nostalgi saat kita sering luangkan waktu. Nikmati bersama suasana Jogja.