27 August 2009

Ada yang tahu, kenapa kita perlu beribadah?....

Saat berdiskusi dengan kawan-kawan di sebuah SMA di Kota Semarang, ada yang bertanya, “Kak, Kenapa kita harus beribadah? Apakah Tuhan butuh untuk disembah?”

Celeguk! Saya terdiam. Batin saya, ini pertanyaan yang cukup berbobot untuk ukuran anak SMA. Tapi itu yang mereka tanyakan. Dan saya harus menjawabnya. Memutar otak. Gengsi dong, masak mahasiswa Fakultas Syariah gak bisa jawab pertanyaan seperti itu. Hehehe…

Tapi tidak mudah juga menjawabnya. Karena saya harus menggunakan logika yang bisa diterima anak-anak SMA. Jika saya terlalu banyak mengutip ayat atau hadits, saya khawatir, pemahaman mereka hanya akan terpaku pada teks itu. Kawan-kawan yang baik ini kurang berani mengembangkan diri dalam pemahaman keagamaan.

“Kamu ingin disayang Ayah-Bunda?”
“He-eh,”, jawabnya lantang, mengangguk.
“Kamu harus menjaga komunikasi yang baik dengan Ayah-Bunda. Caranya, gak bikin mereka marah gara-gara kamu telat bangun. Atau, gak ngabisin makan sahur, padahal ibu sudah cakep-capek masak...” kataku.
“Tyus?”. Ia memberondong saya dengan tanya yang lain.
“Kamu pengen disayang Tuhan?”
“Pasti dong”
“Makanya, kamu perlu membangun komunikasi yang baik dengan Tuhan.”
“Caranya?”
“Ya dengan ibadah”, jawabku terang. Dan kawan saya tadi tersenyum. Tahu kenapa? Temukan jawabannya di buku ini…


Judul : Fikih For Teens, Anak Gaul Paham Islam

Penulis : M. Nasrudin
Tebal : xx + 176 hlm
Cetakan : Perdana, Agustus 2009

Penerbit : Penerbit Jauza, Jogjakarta
Harga : Rp 32.000,-

26 August 2009

Gaul Iya, Paham Islam Juga

"Ma...ma...af, sa...ya...nggak tahu, Pak" Jawaban grogi seperti itulah barangkali yang kamu berikan kala ditanya gurumu: Apakah zakat itu? Gimana menyalurkannya? Mengapa kita musti beribadah? Apa sajakah ibadah itu? Dan seterusnya. Dan sebagainya. Ataukah dengan pedenya kamu tetep ngejawab atas ketidaktahuanmu? Janganlah yaw! Malu-maluin...

Pertanyaannya kemudian, kenapa kita tidak tahu, padahal kita mengaku muslim sejati? Hayo... Kenapa? Mungkin, di antara kamu ada yang ngejawab, "Nggak ada waktu untuk belajar agama." Atau, "Mata pelajaran agama di sekolah ngebosenin, monoton, dan gurunya killer abis".

Boleh jadi yang disampaikan di sekolah atau pengajian saat bicara agama pasti mengarah ke surga atau neraka. Iya, kalau kita punya tabungan banyak ibadah karena ngerti caranya, kita bisa pegang tiket ke surga. Lha kalau kita banyak dosa? Atau, kita tidak shalat misalnya dengan alasan aneh: karena tidak bisa. Apa tidak repot?

Belum lagi jika belajar agama, kamu dipaksa harus paham huruf Arab. Udah bentuknya kayak cacing gitu. Bacanya juga aneh, dari sebelah kanan lagi. Banyak aturan bacanya pula. Kalo kayak gini, gimana bisa baca al-Qur’an dan paham Islam? Nah lho...

Yup, sekarang berbahagialah. Buku yang kamu pegang ini hadir memberi jawaban buat kamu yang emang lagi haus akan pengetahuan Islam dengan bahasa yang gue banget. Ada banyak hal yang bisa kamu pelajari, dari mengenal kedewasaan, mengapa kita harus ibadah, bagaimana cara ibadah (shalat, puasa, zakat, haji, dlsb). Spesial buat kamu, ada penjelasan hubungan muda-mudi (ehm...).

Sedikit catatan, buku ini adalah hasil diskusi panjang lebar penulis dengan ratusan siswa di beberapa SMA dan MA di Kota Semarang dan Kab. Pati Jawa Tengah dalam rangkaian Pesantren Ramadhan 2008 lalu. Karena itu, logika agama yang digunakan, juga berwarna anak SMA yang kritis, cerdas, gaul, dan selalu ingin tampil beda. Beberapa sekolah juga berencana menjadikan buku ini sebagai pegangan Pesantren Ramadhan kali ini.

Nah, sebagai bonus, pada halaman depan, ada kamus mini yang mencakup pengertian istilah-istilah keagamaan. Jadi, gak ada lagi alasan untuk malu di depan guru. Karena bahkan anak gaulpun, harus pinter agama, minimal sebagai pedoman diri. Eh, buku ini juga cocok buat kado ultah atau hadiah buat anak, saudara, sahabat, keponakan, kerabat, atau tetangga kita yang lagi berpuasa.

Selamat membekali diri di bulan suci.....


Judul : Fikih For Teens, Anak Gaul Paham Islam
Penulis : M. Nasrudin
Tebal : xx + 176 hlm
Cetakan : Perdana, Agustus 2009
Penerbit : Penerbit Jauza, Jogjakarta
Harga : Rp 32.000,-

21 August 2009

Berebut Ruang di Galeri

“Demi kenyamanan, kami menggunakan sistem shift untuk pengunjung Jogja Gallery”, begitu yang disampaikan oleh seorang perempuan melalui pengeras suara, sesaat setelah pameran resmi dibuka. Benar saja, pengunjung galeri malam itu membludak, Berdasar perhitungan kasar penulis, mencapai lebih dari 200 orang.

Penulis, lewat tulisan ini tidak bermaksud membahas konten pameran Anang Asmara yang menampilkan proses rekonstruksi akan sepenggal budaya berpakaian ala Jawa: batik ke dalam media kanvas. Di sisi lain, penulis merasa perlu memotret sisi lain dari sebuah galeri: para pengunjung yang mulai menyemut di pintu masuk.

Benar saja. Beberapa pengunjung berjalan gesit, memotong jalan melompati beberapa kursi yang sudah kosong. Ia segera masuk pintu. Yang saya tahu, ia adalah wartawan sebuah majalah yang terbit di Solo. Ia segera masuk dan dari dalam, ia mengabadikan momen ketika beberapa orang memasuki pintu. Beberapa fotografer lepas dari Kantor Berita Antara dan beberapa media massa melakukan hal yang sama.

Hanya ada dua pilihan: datang awal dan mengabadikan karya pilihan, saat belum banyak orang memenuhi ruang pamer, hingga ia leluasa mengambil gambar. Pilihan kedua, ia hadir belakangan, sekalian menunggu ruang pamer sepi kembali. Uniknya, ada beberapa wartawan satu media yang bertemu dalam satu forum. Artinya, mereka kurang koordinasi, terlalu sibuk mengejar berita. Itu habitus wartawan media cetak atau on-line.

Sementara, di pojok utara, seorang lelaki dengan jaket rompi RBTV memasang handycam di atas tripod. Ia menghadapkan kamera ke salah satu karya, menyiapkan kamera pada mode otomatis. Klik... “Pemirsa, saya sedang berada di Jogja Galeri. Saat ini, pameran tunggal perupa Anang Asmara baru saja dibuka.” Sesaat ia berhenti dan melanjutkan, “Selamat menikmati. RB TV.”

Itu tadi habitus wartawan televisi (lokal). Ia mengambil satu sesi gambar untuk nantinya diolah menjadi pembuka sekaligus penutup laporannya dalam tayangan berita RBTV. Dan orang-orang di sekitar segera saja mengalihkan perhatian kepada sosok aneh itu. Aneh, karena reporter RBTV itu sekaligus kameraman. Begitulah wartawan. Seperti elang, ia terbiasa terbang sendiri.

Beberapa orang berpakaian sederhana, namun model seperti itu biasa digunakan untuk kondangan. Ia bersama anak, istri, dan kerabat lain bergerombol di sebuah sudut ruang pamer, melihat hasil karya saudara mereka. Mereka adalah keluarga dan kerabat perupa yang sedang pameran yang sengaja diboyong dari Kaliurang. Ini habitus ketiga.

Habitus keempat, beberapa orang berkumpul di tengah ruang pamer. Mereka sepertinya sibuk membincangkan sesuatu. Usut punya usut, ternyata mereka sedang reuni. Karena ternyata, banyak di antara mereka yang dulunya sama-sama kuliah di satu perguruan tinggi. Beberapa kawan lain, juga ikut gabung. Sebagian besar kelompok ini merupakan pengunjung yang berusia di atas 30 tahun.

Ada juga kelompok yang cukup unik. Mereka datang berkelompok, 2-4 orang bahkan lebih. Dari gaya berpakaian, mereka masih mahasiswa di pelbagai perguruan tinggi di DIY. Sesaat setelah pameran dibuka, mereka langsung menyerbu snack dan makanan gratis yang tersedia. Weits.... Ternyata jumlah mereka tidak sedikit, hingga banyak orang menjuluki mereka The Snackers.

“Lumayan, Mas. Bisa menghemat anggaran makan.”, seloroh seorang snacker sembari tertawa ringan. Tangannya penuh beberapa snack. Penulis sempat berbincang dengan seorang sastrawan DIY generasi 80-an yang enggan disebut namanya. Saat ia menjadi mahasiswa, rupanya ia juga sudah menjadi snacker. Ia bahkan punya jadwal pembukaan pameran semua galeri di Jogja. Dasar Snacker!

Golongan keenam. Mereka datang bersama pasangannya. Beberapa di antaranya sudah menikah dan ada yang masih pacaran. Bahkan, ada dua pasangan yang ternyata masih pengantin baru. Itu seloroh yang terdengar dari rekan-rekannya saat melihat kemesraan sepasang sejoli ini. Mereka datang ke situ, karena sekedar ingin refreshing gratis dan berkelas, sekalian dapat makan gratis.

Golongan ketujuh. Mereka bukan wartawan, tapi membawa kamera digital. Sebagian di antaranya wisatawan dari luar kota. Beberapa di antaranya orang Jogja sendiri. Dari objek foto dan caranya menggunakan kamera, tampak jelas mereka hanya sekedar ingin mengambil gambar. Ada beberapa fotografer profesional yang memang mengambil gambar unik, seperti pengunjung yang mengintip di balik lukisan, atau mengintip di bawah label identitas karya yang mengatup, menempel di dinding.

Para pemegang kamera yang unik ini kebanyakan tidak sekedar mengabadikan karya. Beberapa di antaranya, terutama remaja putri berpose di depan sebuah karya lalu dengan sebelah tangan, ia mengambil gambar dengan kameranya. Beberapa remaja lain menggunakan kamera hape. Saat ditanya, buat apa? “Buat dipasang di situs jejaring Facebook ato wallpaper ponsel.” Ini habitus narsis.

Kelompok kedelapan, mereka datang dengan mengenakan mobil pribadi. Di ujung acara, ia biasa menawar berapa harga satu karya. Saat pembukaan, orang seperti ini tidak banyak terlihat, mungkin hanya satu atau beberapa. Mereka lebih sering hadir di balik layar. Beberapa di antaranya tidak ingin terlihat di publik. Ada yang membeli hanya demi memenuhi rasa kepuasan. Beberapa lagi demi investasi jangka panjang.

Kompetisi ruang
Dari celoteh di atas, kita menemukan fakta menarik. Bahwa dimensi ruang tidak lagi didominasi oleh satu kuasa saja. Galeri seni bukanlah medan yang sunyi dari perebutan ruang (space struggle). Lebih dari itu, di sana telah terjadi pengkaplingan ruang. Mulanya, sebuah galeri berdiri sebagai ruang pertemuan antara seniman dan penikmat seni, untuk membincang dan mengapresiasi karya seni.

Dalam perkembangannya, galeri bukanlah benda mati, ia adalah sebuah struktur dan sistem yang membutuhkan suntikan dana untuk bisa bertahan hidup. Atas dasar itu, visi komersial kemudian tampil dan mengemuka. Lebih-lebih, dalam beberapa waktu terakhir, seperti yang dicatat sastrawan Triyanto Triwikromo, tahun ini seni rupa mengalami masa booming untuk wilayah Asia Pasifik.

Maka tidak mengherankan, ketika hampir setiap hari, Jogja selalu penuh dengan pembukaan pameran seni rupa. Beberapa kota lain juga menggeliat seperti Bandung, Jakarta, Bali, bahkan Semarang dan Magelang. Semua menggeliat. Hampir semua karya terjual. Kini, banyak galeri kemudian menjadi ruang yang dikendalikan oleh kuasa komersial.

Namun, siapa sangka, di balik semua itu, para pengunjung galeri kemudian menjadikan ruang galeri, meminjam ungkapan Yasraf, sebagai medan pertarungan secara simbolik dan fisik sekaligus. Mereka berebut kapling ruang galeri sesuai hasrat. Hasrat inilah yang mengajak beberapa mahasiswa untuk menjadi snacker; para alumni Perguruan Tinggi untuk reuni; sepasang kekasih yang rekreasi; fotografer tergila-gila dengan objek lukisan-lukisan menarik; atau wartawan mencari berita.

Mereka meramaikan ruang galeri. Di sisi lain, mereka, sebagai jelmaan visi sosial, juga berebut untuk memberikan makna dan tanda pada ruang. Bagi pemilik galeri, kehadiran para pengunjung boleh jadi menjadi kebanggaan, karena objek komersial melebar. Tapi di sisi lain, mereka yang hadir telah menggunakan ruang sebagai bagian dari bentuk perlawanan atas hegemoni pemilik galeri. Terjadilah perang. []

Source: Jurnal Kreativa FBS UNY edisi Agustus 2009

M. Nasrudin
Penikmat seni. Berkarya sebagai editor pada Penerbit Jalasutra.

20 August 2009

Mendamaikan Lantunan Salam

“Assalamu’alaikum wr. wb.” Demikian kata Prof. Dr. Said Aqil Siraj, saat membuka orasi budaya Menjembatani Politik dan Agama yang dihelat Impulse di ruang Kepodang, Kanisuis, 23 April lalu. “Waalaikum Salaam”, Itu jawaban yang diberikan para pengunjung yang tentu saja beragam iman.

Salam yang sama disampaikan seorang pimpinan Pemprof Jateng kala membuka sambutan pada Dialog Antar Iman yang dilaksanakan Bakesbangpolinmas Jateng, 21-22 November 2008 lalu di Bumi Perkemahanan Salib Putih, Salatiga. Seorang kawan non-muslim yang duduk sebangku, hanya terdiam, tak menjawab salam.

Penulis sengaja membuka tulisan ini dengan “salam muslim”. Menariknya, salam itu disampaikan kepada komunitas beragam agama, tidak hanya muslim. Kondisi serupa pernah penulis alami kala live in pemuda lintas agama Pondok Damai di Vihara Dhammadipa, Pandak, Kudus, 16-18 Agustus tahun lalu. Sama, kala penulis membuka dengan “salam muslim”, beberapa peserta nonmuslim terdiam, tak menjawab.

Bila kita cermati, dalam pengucapan salam khas muslim di atas ada peneguhan identitas keagamaan tertentu (baca: Islam) pada komunitas heterogen. Peneguhan ini fenomena alamiah. Saat kita dihadapkan dengan komunitas lain, kita cenderung menguatkan identitas kita. Bahwa kita berbeda dengan bukan-kita. Sementara, kita merasa nyaman saat berada pada komunitas homogen.

Pertanyannya, apakah peneguhan identitas tersebut bisa dimaklumi dalam kerangka membangun sinergitas lintas agama? Ataukah justru menghambat sinergitas? Hingga kita harus benar-benar melebur identitas diri sampai level struktur bahasa (salam, misalnya). Lalu, kita menggantinya dengan salam yang lebih umum dan netral seperti “Selamat Pagi”, seperti yang diperkenalkan Gus Dur. Haruskah demikian?

Tapi hal ini akan jadi problem serius, karena dalam peleburan identitas, setiap person akan kehilangan otonomi diri. Ketiadaan identitas diri justru bisa menyebabkan dialog menjadi mustahil dilakukan dan segala upaya menujunya hanya sia-sia belaka. Karena yang tersisa hanyalah satu identitas: seragam. Dialog kemudian menjelma monolog yang kaku dan “lurus”.

Di sini, peneguhan identitas menjadi niscaya, tak bisa dihindari. Yang jadi problem, saat memilih identitas, pada waktu yang sama terjadi proses deferensi (pembedaan) dan negasi atas identitas yang tak digunakan, sebagaimana diisyaratkan Derrida. Setiap person mengambil sebuah identitas, dan menafikan identitas yang lain.

Proses penafian ini memang niscaya. Kendati menafikan, perlu ada sikap penghargaan dan penerimaan atas tindakan orang lain yang mengambil identitas yang berbeda dengan identitas yang kita ambil. Sikap menerima dan menghargai ini tak akan bisa dimulai tanpa dialog.

Dialog bertujuan mengenal dan memahami yang-lain. Sedang dialog sendiri hanya bisa efektif jika ada keterbukaan dan kesediaan para pihak yang terlibat untuk menerima eksistensi liyan (the-others) sebagai entitas yang mengada, setara, dan patut mendapatkan penghargaan, sebagaimana kita mengharghai eksistensi kita sendiri.

Berbekal keterbukaanlah, pemahaman dan kesepahaman bisa dicapai. Meminjam ungkapan Socrates, bahwa kebaikan, kebenaran, dan kebijaksanaan pada prinsipnya sudah terhujam dalam jiwa setiap insan. Dan tugas filsuf hanyalah membantu setiap orang untuk melahirkan kebaikan dan kebajikan dari dalam diri mereka sendiri.

Dialog jugalah yang ditawarkan Socrates untuk menyukseskan programnya itu. Proses ini ia sebut eudamonia (bidan). Dimulai dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan hingga didapat jawaban yang tak tertanyakan lagi. Di situlah kebijaksanaan ditemukan. Dan penghargaan atas liyan (the-other) adalah satu dari sekian kebijaksanaan yang bakal ditemukan.

Mayor dan Minor

Berbincang relasi, tentu tiada yang benar-benar ideal dan setara seratus persen. Hal ini dipengaruhi oleh daya tawar dalam arti yang teramat kompleks. Dalam segi kuantitas dan kualitas, tiada dua entitas di dunia ini yang benar-benar setara dan seimbang. Pasti ada selisih yang membedakan daya tawar keduanya. Ini bila kita memakai hukum penawaran-permintaan.

Perbedaan ini berujung pada timbulnya dua kutub: mayor dan minor. Di satu sudut, ada mayoritas dan di sudut yang lain terdapat minoritas. Posisi ini mempengaruhi pola komunikasi dan dialog. Ini menyangkut power (kuasa). Bahwa mayoritas acap identik dengan superior dan minoritas identik dengan inverior, dalam kajian postkolonial disebut subaltern.

Dari titik ini, kemudian memunculkan, —meminjam ungkapan A. Gramsci— hegemoni mayoritas atas minoritas secara kualitas. Hegemoni ini bermula dari wilayah ideologis. Dalam kasus ucapan salam khas di atas, ada sebuah kuasa dari kaum mayoritas untuk menghegemoni pada wilayah ideologi dan pemilihan struktur kata (salam). Hingga fakta pluralitaspun dinafikan.

Pemilihan “Assalamualaikum” sebagai salam pembuka dengan sendirinya menafikan bentuk-bentuk verbal salam yang lain, semisal “Salam Sejahtera”, “Om swasti astu”, “Nammo Buddhaya”, dst. Meminjam kaca mata Pearl Bordjou, ini sebentuk kekerasan simbolik yang dilakukan secara pasif oleh person kepada pihak tertentu yang tak tersebutkan, ternegasikan.

Pada tingkat lebih lanjut, sentimen hegemoni bisa beranjak pada bentuk-bentuk dominasi. Karena bahasa, meminjam Komarudin Hidayat, mencerminkan kondisi internal jiwa seseorang. Orang yang pikirannya sedang kacau, bicaranya (baca: bahasanya) juga kacau. Maka, orang yang berpikiran hendak menyingkirkan identitas lain, tentu menyingkirkan identitas itu dalam struktur bahasa yang digunakannya.

Ini amat menarik ketika memperhatikan perspektif seorang muslim desa tatkala ia melihat seorang berkulit putih dan bermata sipit sedang keluar dari sebuah mobil mewah dan berjalan menuju hotel. Dalam benak seorang muslim desa itu ada beberapa bayangan yang tergambar seperti “orang kafir”, “China”, dan “kaya”.

Lalu, apa yang terjadi bila sore harinya, si muslim desa tadi menemukan seseorang yang ditemuinya tadi sekarang mengalami kecelakaan? Akan ada pertarungan wacana dalam diri si muslim ini antara hendak membantu dan perasaan bahwa ia yang celaka itu berbeda dengan dirinya dalam segi relijiusitas, level penguasaan ekonomi, pendidikan, dan seterusnya.

Dengan demikian, bila ucapan salam itu diucapkan oleh seorang muslim desa seperti penulis dalam sebuah forum lintas agama, ini sebentuk penegasian (baca: perlawanan) atas non-muslim yang dalam pandangan muslim desa, mendominasi wilayah ekonomi, materi.

Peran Negara

Sebagai hasil kontrak sosial, selayaknya negara menghargai eksistensi dan memberikan perlindungan kepada segenap tumpah darahnya. Negara harus menjamin kebebasan setiap warga untuk berekspresi sesuai identitas yang melekat pada setiap diri warganya. Negara wajib meng-atasi dan menjamin eksistensi segala identitas primordial warga.

Maka, ucapan seorang pimpinan pada awal artikel ini jika dipahami dalam kerangka ekspresi personal, amat absah dan bisa dimaklumi. Tetapi, jika si pemimpin tadi dilihat sebagai penjelmaan simbol negara, maka akan lebih baik jika “Assalamualaikum” menjadi milik seluruh bangsa Indonesia, sebagaimana kata abah, adab, abad, akhir, asli, awal, dst yang merupakan serapan dari bahasa Arab.

Perlu nasionalisasi ungkapan salam yang terfragmen dalam serpihan agama warga negara yang beragam. Dengan demikian, kini tiada lagi alasan bagi non-muslim untuk diam kala mendengar Assalamualaikum. Sama halnya, tiada alasan bagi saya untuk diam kala mendengar Om swasti astu. Allahu a’lam.

M. Nasrudin
Editor Penerbit Jalasutra
Tulisan ini dimuat di Majalah Justisia Edisi 34, Agustus 2009