14 November 2013

Merawat Identitas Santri

Catatan Kecil tentang ALTAISIR (2002-2008)


Demi masa. Sesungguhnya manusia kerugian. Kecuali mereka yang beriman, beramal saleh, dan saling mengingatkan dalam hak, serta saling mengingatkan dalam kesabaran.

Begitulah firman Allah swt dalam al-Quran. Bahwa seiring berjalannya waktu, manusia sering mendapat godaan dari segenap penjuru, hingga ia menjadi orang-orang yang merugi. Dan agar tidak merugi, ada setidaknya empat kunci yang diberikan al-Quran dalam ayat di atas, yakni: (i) beriman, (ii) beramal saleh, (iii) saling mengingatkan dalam hal yang baik dan (iv) dalam kesabaran.

Dalam sebuah komunitas eksklusif seperti pesantren, eksekusi atas keempat poin di atas mudah sekali dilakukan. Efektivitas ini karena dalam rentang waktunya, persinggungan person-person dalam komunitas tersebut dengan dunia luar bisa difilter dengan relatif tanpa hambatan berarti. Proses pemupukan iman dan kesalehan mudah sekali didisiplinkan. Apalagi saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran, tentu bisa ditradisikan. Begitulah yang terjadi di pesantren mana saja.

Kondisinya menjadi berbeda tatkala para santri ini sudah mutakharij dari pesantren. Beruntunglah ia yang sudah memiliki bekal keilmuan yang mumpuni dan langsung terjun di masyarakat di kampungnya, sehingga ia bisa berkontribusi bagi komunitasnya. Dalam banyak kasus, di era belakangan ini, menjadi santri tidak seperti era beberapa dekade lalu yang membutuhkan waktu sampai belasan hingga puluhan tahun. Santri generasi 1990-an dan 2000-an sebagian besar menghabiskan waktunya di pesantren hanya 3-6 tahun, selama ia di Madrasah Aliyah dan/atau Madrasah Tsanawiyah.

Selepas sekolah formal, mereka segera meninggalkan gothaan pesantren dan hijrah ke kota-kota besar untuk meneruskan studi formalnya di Perguruan Tinggi. Di satu sisi, mereka belum punya ilmu yang cukup mumpuni untuk terjun ke masyarakat, sehingga ia harus menambah dan mengasah lagi pengetahuannya. Dan di sisi yang lain, ia harus berpindah habitat, bergumul dengan realitas yang lebih ganas dalam ruang terbuka, dan bebas. Beruntung jika mereka bisa kuliah sekaligus mondok. Namun, dunia kampus lebih banyak tidak sejalan dengan dunia pesantren, baik secara ontologis, metodologis, dan aksiologis.

Ketika di pesantren, masih ada yang membangunkan salat subuh dan tahajud. Kalau di tinggal di kos, siapa yang akan membangunkan? Saat di pesantren, silaturahmi lain jenis sangat terbatas, kalau di Perguruan Tinggi, pergaulan jauh lebih bebas dalam norma, etika, dan polanya, bahkan di Perguruan Tinggi Agama Islam sekalipun yang dalam hal-hal tertentu sudah menabrak norma agama itu sendiri. Siapa yang akan mengingatkan, mengingat kampus sendiri tidak punya kuasa sekuat pesantren dalam mengendalikan logika dan perilaku mahasiswanya, karena kampus cenderung mendaku sebagai mimbar bebas?

Pasti. Nyaris seluruh santri yang pindah ke dunia Perguruan Tinggi mengalami gegar budaya (shock culture). Ada yang kemudian menutup diri, namun lama-kelamaan jebol juga. Ada yang langsung larut bahkan jauh lebih larut. Apalagi bagi mereka yang dulu di pesantren menganggap pesantren sebagai “penjara suci”, yang segalanya serba diatur dan dibatasi. Saat batas dan aturan itu dinisbikan, maka mereka-mereka ini tak ubahnya macan lapar yang keluar kandang. Segalanya hendak dikejar dan diterkam. Perbedaan sikap ini pada akhirnya membuat garis demarkasi yang jelas di antara mereka yang dulunya pernah sama-sama berproses di pesantren yang sama, bahkan dengan pesantrennya. Tak jarang santri yang kemudian lupa, bersikap negatif dengan pesantrennya dulu, bahkan memutus tali silaturahmi dengan pesantren.

Begitulah realitasnya. Dan berangkat dari sini, dari kegelisahan yang dialami oleh nyaris seluruh alumni Brabo kemudian muncul rasan-rasan. Mereka berkumpul untuk saling menguatkan, saling mengingatkan dalam hak dan kesabaran, serta sekaligus memperkuat identitas santrinya agar tidak lebur dan larut dalam euforia dunia kampus. Forum curhat-curhatan dan silaturahmi ini kemudian menemukan manfaat yang luar biasa besar ketika dihadapkan dengan realitas yang seperti disebut di atas. Mengingat kecenderungan yang ada, di mana dari tahun ke tahun, jumlah urbanisasi sosial dari pesantren ke Perguruan Tinggi semakin membludak, forum ini kemudian dilembagakan dalam sebuah organisasi.

Meneguhkan Identitas
Agar identitas santrinya tetap kental, maka dipilihlah nama organisasi ini dengan nama yang mencerminkan akar kultural bersama, di mana para anggotanya pernah diproses. Diambillah nama dua almamater yang dekat secara kultural: yakni PP Sirojuth Tholibin dan Yayasan Tajul Ulum. Dua nama ini dipilih agar mereka yang berbeda irisan bisa tetap terlibat dalam organisasi ini. Ada santri yang hanya di pesantren tetapi bukan alumni Tajul Ulum. Ada yang alumni Tajul Ulum tapi tidak pernah nyantri. Namun semuanya dapat bernaung di bawah organisasi ini.

Ada beberapa nama yang sempat diwacanakan. Setelah diadakan salat istikharah, beberapa kawan, termasuk Muhammad Habib, SHI (alm), Ali Mawahib, SHI, Bahrul Fawaid, SHI, Turmudzi, dan beberapa kawan lain sowan kepada KH Baidhowi Syamsuri untuk memohon berkah dan bimbingan. KH Baidlowi Syamsuri kemudian merestui nama ALTAISIR. Nama ini adalah kependekan dari Alumni Tajul Ulum in Sirojuth Tholibin. Dalam pesannya yang disampaikan kepada segenap alumni, KH. Baidlowi selalu menekankan agar para santri tetap berpegang teguh pada ajaran Islam ala ahlussunnah wal jamaah dan tetap istiqamah menjalankan tradisi santri.

Berbekal restu dari sesepuh dan pengasuh inilah, kemudian dibentuklah perangkat kelembagaan formal. Mulai dari kepengurusan, AD/ART, lambang organisasi, dan seterusnya. Generasi pertama ini kemudian memilih Muhammad Habib, SHI (alm) sebagai ketuanya. Anggotanya adalah sebagian besar angkatan 2002 di IAIN Walisongo. Kegiatan yang dilakukan adalah diskusi rutin, silaturahmi ke pondok dan madrasah (terutama saat haul KH Syamsuri Dahlan dan Idul Fitri), halal bi halal, dan kegiatan-kegiatan lain yang bersifat kesantrian dan intelektual.

Merentang Sayap
Setelah berjalan kira-kira setahun, dilakukanlah pergantian kepengurusan. Tampuk kepemimpinan berpindah kepada Bahrul Fawaid, SHI. Generasi yang berperan masih angkatan 2002 dan terbatas di IAIN Walisongo. Hal ini mengingat minimnya alumni MATU/SIRBIN lulusan 2003 yang melanjutkan studi di IAIN Walisongo, sehingga kepemimpinan masih bertengger di angkatan 2002. Pada tahun 2004 kondisinya tak jauh berubah, apalagi alumni MATU/SIRBIN yang melanjutkan studi di IAIN Walisongo hanya ada 3 orang: yakni Husein (PAI FT), Nasrudin (AS FS), dan Jauhar Mama Umaya (TB FT). Pada tahun 2004 ini, ALTAISIR kurang berkembang.

Baru pada 2005, kepemimpinan bergeser kepada Husein dan angkatan 2004. Mengingat minimnya alumni MATU/SIRBIN di IAIN Walisongo, maka kepengurusan generasi ini kemudian melebarkan sayap ke kampus-kampus lain di seputar Semarang, seperti IKIP PGRI, UNDIP, dan UNNES. Jumlah anggotanya kemudian bertambah. Kegiatan kesantrian dan intelektual terus digalakkan dari satu kampus ke kampus lain, dengan menjadikan IAIN Walisongo sebagai sentrumnya.

Silaturahmi yang awalnya hanya ke SIRBIN kemudian dikembangkan ke Tajul Ulum. Puncaknya, ALTAISIR mendapat kepercayaan dari MATU untuk menggelar pelatihan MBS (Masa Bar Sekolah) pada 2006/2007. ALTAISIR diminta memberikan pembekalan bagi para siswa MATU kelas 3 yang baru saja menyelesaikan UAN. Pembekalan ini seputar apa saja yang biasa terjadi setelah lulus MA dan apa saja yang perlu disiapkan untuk mengantisipasinya, apa saja peluang dan tantangan studi di Perguruan Tinggi dan beasiswa, hingga bagaimana menyiasati persoalan perekonomian.

Pembekalan itu rupanya memiliki buntut yang lumayan panjang. Angkatan 2007 dan generasi selanjutnya yang melanjutkan studi di Perguruan Tinggi semakin banyak. Meski pembekalan itu membawa imbas, tapi hal ini tak bisa dilepaskan dari kecenderungan global di kalangan santri bahwa kuliah adalah sebuah keharusan dalam melengkapi portofolio pribadi untuk masa depan. ALTAISIR di IAIN Walisongo sempat membentuk kepanitiaan nonformal untuk mendampingi para alumni MATU yang hendak mendaftar di IAIN Walisongo. Beberapa kawan yang membutuhkan tempat penginapan dan tempat mukim, ALTAISIR mencoba memfasilitasinya.

Beruntung, generasi ALTAISIR angkatan 2002 dalam hal ini Muhammad Habib, SHI (alm) diamanahi sebagai lurah Asrama Mahasiswa Walisongo. Sehingga, para alumni MATU yang belum mendapatkan tempat menginap bisa singgah sementara di asrama. Beberapa alumni MATU juga disalurkan untuk menjadi takmir di masjid, musala, sekaligus TPQ untuk mensyiarkan Islam. Sekaligus, mereka mendapatkan tempat bernaung secara cuma-cuma.

Angkatan 2004 termasuk lama dalam memegang kepengurusan, setidaknya sampai tahun 2008 ketika angkatan 2007 sudah mulai mahir dalam mengelola organisasi. Kepemimpinan kemudian berpindah ke generasi 2007, mengingat angkatan 2005 dan 2006, tak banyak alumni MATU dan SIRBIN yang melanjutkan studi di Perguruan Tinggi. Ketua dipegang oleh Himam Nasiruddin. Selepas 2009, saya tak banyak lagi terlibat dalam kegiatan ALTAISIR karena hijrah ke Jogja.

Alaa kulli haal. Satu hal yang menjadi catatan penting. ALTAISIR didirikan bukan sekadar wadah berkumpul dan grubyak-grubyuk. Lebih dari itu, ALTAISIR berkait dengan soal hidup-mati identitas santri di dada para alumni pesantren, wahana dalam bertarung melawan kultur baru, bernegosiasi dalam hal etika, norma baru, dalam dunia global yang semakin menisbikan tata nilai dan norma. Bagi almamater, ALTAISIR adalah ruang untuk mengelola alumni.

M. Nasrudin
Ayah dari seorang anak. Suami dari seorang istri.

Berproses di MATU dan SIRBIN (2001-2004), IAIN Walisongo dan ALTAISIR (2004-2009).

13 June 2013

Aku Ingin Jogja (Kembali) Berhati Nyaman


Pulang ke kotamu, ada setangkup haru dalam rindu
Masih seperti dulu, tiap sudut menyapaku bersahabat penuh selaksa makna
Terhanyut aku akan nostalgi saat kita sering luangkan waktu
Nikmati bersama suasana Jogja.
Kla Project, Yogyakarta.



Lirik lagu legendaris ini sering terngiang di telinga. Dahulu sekali, sekitar lima belas tahun lalu, saat itu saya masih sekolah di kampung halaman di Lampung Tengah. Saya sempat membayangkan bagaimana ya kalau saya bisa sekolah di Jawa, pasti keren. Apalagi bisa sekolah di Jogja, gudangnya orang pinter. Punya banyak teman yang pinter-pinter. Bisa jalan-jalan. Ah asyiknya....

Empat tahun kemudian, saya berkesempatan melanjutkan studi di Fak. Syariah IAIN Walisongo Semarang. Senang sekali rasanya bisa menjadi mahasiswa dan bisa studi lanjut di Jawa. Bagi warga kampung kami, itu sangat keren. Saat itu, selesai mengikuti orientasi mahasiswa baru diwajibkan untuk ikut study tour. Dan.. yolla. Tujuannya adalah Jogja. September 2004 adalah kali pertama saya menginjakkan kaki di Bumi Ngayogjokarto.

Ah... Gimana gitu rasanya. Saya sangat terkesan dengan pantai Parangtritis dan pedestrian Malioboro. Sayangnya, lantaran waktu itu saya bersama rombongan 17 bus, jadi saya tidak bisa benar-benar lepas dan bebas dalam menikmati detil sudut-sudut cantik Kota Jogja. Waktu kunjungan pun hanya sehari semalam yang dibagi di banyak tempat. Yang didapat malah rasa capai. Tentu saya merasa ada yang kurang. Ada semacam hutang yang harus dilunasi. Ada sejenis kerinduan yang harus dituntaskan.

Tiga tahun berlalu. Tahun 2007 adalah tahun-tahun paling intens antara saya dan Jogja. Kegiatan di pers kampus dan beberapa organ membuat saya punya banyak alasan untuk bisa berdekat-dekatan dengan Jogja. Main-main ke teman-teman PPMI (Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia) Dewan Kota Jogja. Main-main ke komunitas penulis, ke komunitas Jaringan Islam Kampus Jogja, hingga mencari percetakan untuk mencetak majalah kami. Mulai dari sinilah saya bisa merasakan denyut nadi Ngayogjokarto. Kerinduan sedikit terobati, tapi ketika meninggalkan Jogja dan bertolak ke Semarang, kerinduan itu semakin membuncah. Saya harus menetap di sini, di Jogja, tekad saya waktu itu.

Segera saya selesaikan studi S1 di IAIN Walisongo dan langsung hijrah ke Jogja. April 2009 saya mulai kos di Mangunegaran. Ini tempat yang sangat sangat strategis: di jeron beteng, dekat ke alun-alun, kraton, malioboro, museum, taman sari, taman pintar, shopping center, TBY, dan banyak tempat eksotis lain di sekitar sini bisa dijangkau dengan jalan kaki. Beberapa waktu kemudian, saya terlarut dengan nadi Jogja, dengan geliat seninya, dengan geliat sastranya, geliat budayanya, geliat intelektualnya, juga geliat dunia perbukuannya.


Degradasi
“Kamu telat, Nas. Coba kamu datang ke Jogja 3 atau 4 tahun yang lalu. Kamu bakal menemukan lebih banyak komunitas seni, komunitas budaya, komunitas epistemik yang sangat-sangat hidup. Sekarang sudah langka, Nas.” Begitu kata kawan lama saya yang kini sudah lebih dari 13 tahun tinggal di Jogja dan baru saja menyelesaikan studi S2 di IRB Sanata Dharma. Saya agak sedih dan mencoba menghibur diri. Menurut saya, jika dibandingkan dengan daerah lain, di Jogja masih ada banyak komunitas epistemik yang hidup. Dan yang paling penting adalah iklim Jogja masih sangat mendukung dunia kreativitas, dunia komunalitas.

Sedihnya, empat tahun selama saya tinggal di Jogja, saya mulai merasakan bahwa apa yang dikatakan teman saya itu ada benarnya. Perlahan demi perlahan, saya mulai merasakan bahwa komunitas diskusi yang agak ngilmiah semakin sedikit. Saya tanyakan ke kawan-kawan yang lain. Mereka mengamininya. Kegiatan budaya memang masih banyak dilakukan, tetapi intensitasnya, orientasinya tidak sekental beberapa tahun yang lalu. Dan orientasi kegiatan ini mulai banyak yang berorientasi pada logika kapital.

Iklim Jogja yang dulu ramah mulai bergeser. Ruh Jogja yang berhati nyam-nyam, eh nyaman mulai terasa sesak dan sumpek. Apa ini hanya perasaan saya saja? Atau memang begitu adanya? Saya sempat bertanya-tanya kepada kawan kantor saya yang lahir dan hidup di Jogja. Malangnya, ia mengamini hal ini. Hmm....


Publik vs Privat
Jika kita lihat akarnya, maka sesungguhnya ketidaknyamanan di Jogja ini terjadi lantaran adanya pergeseran di kalangan masyarakat Jogja dalam ranah publik vs privat. Dulu, dimensi publik dirayakan bersama-sama sekaligus untuk mengembangkan ranah privat. Pendulum selalu berayun ke arah publik. Yang didahulukan adalah wilayah publik, kalaupun ada keuntungan yang bersifat privat, ya itu sebagai bonus atau konsekuensi saja. Tetapi sekarang tidak lagi. Pendulum berayun ke arah privat. Domain privat mulai merangsek, mengalahkan domain publik. Iya kan?

Dulu, basis interaksi manusia Jogja adalah kemanusiaan. Maka kita mengenal kredo migunani tumraping liyan, memberikan manfaat kepada orang banyak. Tetapi kini, kredo ini mulai ditinggalkan perlahan. Bagaimana kita membacanya? Gampang saja. Mari kita perhatian ruang-ruang publik di Jogja: mulai dari jalanan dan sekitarnya, hingga alun-alun. Logika kapital demi keuntungan privat lebih menonjol ketimbang logika publik.

Coba perhatikan jalanan Jogja. Kini sepeda motor dan city car berebut jalan, merangsek dan merampas jalur dan tempat pemberhentian sepeda onthel di lampu merah. Dulu, alun-alun adalah ruang publik yang bebas dimanfaatkan oleh masyarakat luas. Sekarang memang masih dibisa digunakan oleh publik, tetapi makin sering dikapling-kapling untuk kepentingan privat para pengusaha TV untuk siaran langsung, pengusaha rokok, EO pertunjukan, tukang parkir, pedagang pakaian. Bahkan acara sekaten lebih kental logika bisnisnya ketimbang logika perayaan pasar (ruang) publik.

Sekarang kita agak minggir dari tengah jalan. Entah berapa puluh kilometer trotoar yang diduduki secara sepihak lalu beralih fungsi menjadi etalase para pedagang, mulai dari pedagang HP, pulsa, pedagang buah, sampai menjadi lahan parkir sepeda motor. Bahkan parkir sepeda motor tak jarang memakan bahu dan badan jalan yang seharusnya adalah ruang publik yang tidak boleh dikapling-kapling. Hak-hak pengguna jalan dan pejalan kaki terampas di sini. Sekali lagi, logika privat-ekonomi menjadi panglima, mengalahkan logika publik komunalitas sosial.

Naik dari trotoar, ruang beberapa senti meter di atasnya sudah penuh dengan spanduk, baliho, rontek, papan nama, dan iklan, bahkan rambu-rambu penunjuk jalan pun sudah dikapling dan dijadikan space iklan. Teror visual merebak di mana-mana. Kepentingan warga Jogja dan pelancong untuk memanjakan matanya dengan kesejukan dan eksotisme Jogja diteror oleh bombardir iklan dan media luar ruangan. Tiang traffic light dan median jalan tak luput dari serangan poster iklan, mulai dari jasa sumur bor, kuras WC, jasa skripsi, sampai jasa telat bulan.

Sedikit mundur 1-2 meter di belakang trotoar, kita akan mendapati tembok-tembok kota. Dulu, tembok ini bersih. Kalaupun ada, paling dimanfaatkan oleh warga kota untuk menumpahkan ekspresi seni dan keindahan, menambah kesan indah kota. Tapi kini, tembok-tembok kota telah menjadi lahan rebutan dua kelompok besar. Pertama, warga kota yang sakit hati dan termarjinalkan sehingga menumpahkan sakit hatinya dengan mencoret-coret tembok kota. Selain ingin menunjukkan eksistensinya, vandalisme ini juga meneror warga, seakan mereka tak rela jika warga kota lain merasakan kenyamanan Jogja. 

Yang lebih memprihatinkan adalah bahwa komunitas warga sakit hati ini tidak tunggal. Buktinya apa? Ada banyak jejak-identitas yang berbeda yang seakan saling unjuk eksis di tembok-tembok kota. Seolah menunjukkan kepada warga kota, bahwa saya eksis di wilayah ini. Bahwa saya juga eksis di situ juga. Kamu jangan macam-macam di sini ya.

Pihak kedua yang juga turut mengangkangi tembok kota adalah pengusaha dengan logika ekonomi privatnya: menempelkan poster atau mural iklan produk dan jasa mereka di sana, mulai dari iklan acara musik hingga operator layanan komunikasi seluler. Pemasangan poster dan mural iklan ini selain melanggar hukum, menabrak hak pemilik tembok (jika rumah), juga lebih sering tidak mengindahkan keindahan. Kasus mural iklan Ax*s jembatan Kewek yang adalah benda cagar budaya, misalnya.



Jembatan Kewek, Sumber: http://www.urbancult.net/tag/iklan/
Turun dari trotoar kita akan melihat kesenjangan warga Jogja yang sangat menganga. Mungkin Anda bisa mengatakan di sinilah uniknya Jogja, ketika Alphard bersanding dengan sepeda onthel berkeranjang tua di jalanan. Mungkin saat ini kesenjangan perekonomian ini tidak begitu dipermasalahkan, tetapi jika tidak segera diambil tindakan, maka bukan tidak mungkin ke depan akan menjadi bom waktu. Di dekat kontrakan saya, di Jogokarian, misalnya, kalau malam mulai ada beberapa mobil yang parkir di badan jalan depan rumah. Jumlahnya makin meningkat dari waktu ke waktu. Bagaimana 10 tahun ke depan? Mungkin jalan kampung itu sudah jadi lahan parkir, dan pasti akan muncul konflik horizontal.

Di jalanan, kita sekarang bisa melihat bahwa jam berputar sangat kencang. Entah apa yang dikejar, saban pagi, kecepatan sepeda motor semakin meningkat dari waktu ke waktu. Dan tumpukan sepeda motor di depan traffic light itu akan menjelma koor klakson ketika angka merah mulai mendekati angka 3 dan lampu hijau hendak menyala. Maka menyalaklah puluhan klakson di situ. Ketika lampu kuning menyala, bukan kemudian berhati-hati. Sebaliknya, mereka malah mengencangkan laju kendaraan agar tidak terkena lampu merah.

Empat tahun yang lalu, selama saya tinggal di Mangunegaran Kulon, nyaris tidak pernah terdengar suara motor kebut-kebutan atau klakson bersahut-sahutan di jeron beteng. Kini, suara lomba klakson, knalpot terbuka yang meraung-raung, serta kebut-kebutan menjadi keseharian di sekitar plengkung Gading dan plengkung Wijilan pada jam-jam ramai.

Empat tahun lalu, saya sering memperhatikan, sepeda motor yang tidak sabaran, suka kebut-kebutan itu selalu bernomor polisi luar kota. Kini, rupanya plat AB sudah terlatih kebut-kebutan, main serobot jalan, dan adu keras suara knalpot.

Empat tahun lalu, saya enjoy nongkrong di plengkung Gading malam-malam. Kini, saya risih ke sana. Makin banyak remaja yang pacaran kelewat batas dan beberapa ada yang mabuk. Sampai-sampai di situ dipasang papan larangan berbuat mesum dan minum minuman keras. Empat tahun lalu, saya enjoy jalan-jalan malam dari Mangunegaran ke Krapyak dan sepanjang jalan lampunya terang. Kini, sudah lebih dari setahun puluhan lampu taman mati dan tak pernah ada kabar akan diperbaiki.

Di media masa, dulu headline selalu dihiasi dengan berita yang menyejukkan, misal himbauan Sultan, atau berita kesuksesan mahasiswa UGM. Tapi kini, headline media massa di Jogja lebih sering dihiasi dengan berita kriminal dan kecelakaan dan terkesan dibesar-besarkan. Bukannya saya ingin agar media menampilkan yang bagus-bagus saja, tetapi mohon agar media tidak membesar-besarkan hal yang negatif itu.

Begitulah Jogja. Sudah berubah. Kini, meski saya masih di Jogja. Saya makin kangen dengan suasana Jogja 4 tahun yang lalu. Makiiiinnnn kangen dengan Jogja 6 tahun yang lalu, dan jauh lebih kangen dengan Jogja 10 tahun lalu. Dan suara Katon kembali terngiang. Terhanyut aku akan nostalgi saat kita sering luangkan waktu. Nikmati bersama suasana Jogja.