21 June 2012

Dakwah dan Budaya Pop

Membincang dunia dakwah kontemporer tak akan pernah sempurna tanpa kita membincang kelindan ideologi dan pergulatan identitas dalam kebudayaan mutakhir di Indonesia. Dalam lanskap modernitas dan bahkan post-modernisme, kebudayaan Indonesia beberapa dekade belakangan ini tak bisa dilepaskan dari budaya populer. Dalam pandangan seperti ini, membincang dakwah tak akan lengkap tanpa membincang kaitannya dengan budaya populer.

Budaya populer yang dibahas dalam tulisan ini hanya akan dikerucutkan dalam pemaknaan bahwa budaya tersebut diproduksi secara massal oleh industri untuk dikonsumsi secara massal juga oleh masyarakat. Dalam konsumsi ini, dibutuhkan media yang digunakan untuk menyajikan produk budaya kepada konsumen. Sehingga, pembahasaan kali ini tentu akan fokus pada objek media massa dalam sikapnya terkait agenda dakwah Islam, dan juga program acara mereka.

Logika Media
Televisi nyaris tak bisa dilepaskan dari masyarakat kita. Kotak bercahaya itu seakan jauh lebih akrab dengan kita ketimbang hal lain. Ia sudah masuk ke dalam ruang-ruang pribadi kita. Menguasai waktu kita. Laiknya lubang hitam ia menyedot perhatian kita secara penuh dalam serentengan waktu-waktu penting. Apa yang disajikan televisi ini menarik untuk dicermati, terutama kaitannya dengan pertama, bahwa orang Indonesia, yang menjadi konsumen adalah manusia Timur yang beragama, sebagian besar Islam.

Fakta di atas ini kemudian menjadikan ciri khas tersendiri, dan tidak bisa diabaikan oleh produsen program televisi yang ingin masuk ke dalam masyarakat, membetot perhatian mereka sehingga mendapatkan rating yang tinggi, yang ujung-ujungnya adalah mengundang sebanyak mungkin pengiklan untuk menampilkan iklan mereka di program-program yang ditayangkan. Pertanyaannya, seberapa jauh pengaruh religiusitas penonton menjadi bahan pertimbangan dalam memproduksi sebuah program terkait agenda dakwah Islam di televisi?