14 November 2013

Merawat Identitas Santri

Catatan Kecil tentang ALTAISIR (2002-2008)


Demi masa. Sesungguhnya manusia kerugian. Kecuali mereka yang beriman, beramal saleh, dan saling mengingatkan dalam hak, serta saling mengingatkan dalam kesabaran.

Begitulah firman Allah swt dalam al-Quran. Bahwa seiring berjalannya waktu, manusia sering mendapat godaan dari segenap penjuru, hingga ia menjadi orang-orang yang merugi. Dan agar tidak merugi, ada setidaknya empat kunci yang diberikan al-Quran dalam ayat di atas, yakni: (i) beriman, (ii) beramal saleh, (iii) saling mengingatkan dalam hal yang baik dan (iv) dalam kesabaran.

Dalam sebuah komunitas eksklusif seperti pesantren, eksekusi atas keempat poin di atas mudah sekali dilakukan. Efektivitas ini karena dalam rentang waktunya, persinggungan person-person dalam komunitas tersebut dengan dunia luar bisa difilter dengan relatif tanpa hambatan berarti. Proses pemupukan iman dan kesalehan mudah sekali didisiplinkan. Apalagi saling mengingatkan dalam kebaikan dan kesabaran, tentu bisa ditradisikan. Begitulah yang terjadi di pesantren mana saja.

Kondisinya menjadi berbeda tatkala para santri ini sudah mutakharij dari pesantren. Beruntunglah ia yang sudah memiliki bekal keilmuan yang mumpuni dan langsung terjun di masyarakat di kampungnya, sehingga ia bisa berkontribusi bagi komunitasnya. Dalam banyak kasus, di era belakangan ini, menjadi santri tidak seperti era beberapa dekade lalu yang membutuhkan waktu sampai belasan hingga puluhan tahun. Santri generasi 1990-an dan 2000-an sebagian besar menghabiskan waktunya di pesantren hanya 3-6 tahun, selama ia di Madrasah Aliyah dan/atau Madrasah Tsanawiyah.

Selepas sekolah formal, mereka segera meninggalkan gothaan pesantren dan hijrah ke kota-kota besar untuk meneruskan studi formalnya di Perguruan Tinggi. Di satu sisi, mereka belum punya ilmu yang cukup mumpuni untuk terjun ke masyarakat, sehingga ia harus menambah dan mengasah lagi pengetahuannya. Dan di sisi yang lain, ia harus berpindah habitat, bergumul dengan realitas yang lebih ganas dalam ruang terbuka, dan bebas. Beruntung jika mereka bisa kuliah sekaligus mondok. Namun, dunia kampus lebih banyak tidak sejalan dengan dunia pesantren, baik secara ontologis, metodologis, dan aksiologis.

Ketika di pesantren, masih ada yang membangunkan salat subuh dan tahajud. Kalau di tinggal di kos, siapa yang akan membangunkan? Saat di pesantren, silaturahmi lain jenis sangat terbatas, kalau di Perguruan Tinggi, pergaulan jauh lebih bebas dalam norma, etika, dan polanya, bahkan di Perguruan Tinggi Agama Islam sekalipun yang dalam hal-hal tertentu sudah menabrak norma agama itu sendiri. Siapa yang akan mengingatkan, mengingat kampus sendiri tidak punya kuasa sekuat pesantren dalam mengendalikan logika dan perilaku mahasiswanya, karena kampus cenderung mendaku sebagai mimbar bebas?

Pasti. Nyaris seluruh santri yang pindah ke dunia Perguruan Tinggi mengalami gegar budaya (shock culture). Ada yang kemudian menutup diri, namun lama-kelamaan jebol juga. Ada yang langsung larut bahkan jauh lebih larut. Apalagi bagi mereka yang dulu di pesantren menganggap pesantren sebagai “penjara suci”, yang segalanya serba diatur dan dibatasi. Saat batas dan aturan itu dinisbikan, maka mereka-mereka ini tak ubahnya macan lapar yang keluar kandang. Segalanya hendak dikejar dan diterkam. Perbedaan sikap ini pada akhirnya membuat garis demarkasi yang jelas di antara mereka yang dulunya pernah sama-sama berproses di pesantren yang sama, bahkan dengan pesantrennya. Tak jarang santri yang kemudian lupa, bersikap negatif dengan pesantrennya dulu, bahkan memutus tali silaturahmi dengan pesantren.

Begitulah realitasnya. Dan berangkat dari sini, dari kegelisahan yang dialami oleh nyaris seluruh alumni Brabo kemudian muncul rasan-rasan. Mereka berkumpul untuk saling menguatkan, saling mengingatkan dalam hak dan kesabaran, serta sekaligus memperkuat identitas santrinya agar tidak lebur dan larut dalam euforia dunia kampus. Forum curhat-curhatan dan silaturahmi ini kemudian menemukan manfaat yang luar biasa besar ketika dihadapkan dengan realitas yang seperti disebut di atas. Mengingat kecenderungan yang ada, di mana dari tahun ke tahun, jumlah urbanisasi sosial dari pesantren ke Perguruan Tinggi semakin membludak, forum ini kemudian dilembagakan dalam sebuah organisasi.

Meneguhkan Identitas
Agar identitas santrinya tetap kental, maka dipilihlah nama organisasi ini dengan nama yang mencerminkan akar kultural bersama, di mana para anggotanya pernah diproses. Diambillah nama dua almamater yang dekat secara kultural: yakni PP Sirojuth Tholibin dan Yayasan Tajul Ulum. Dua nama ini dipilih agar mereka yang berbeda irisan bisa tetap terlibat dalam organisasi ini. Ada santri yang hanya di pesantren tetapi bukan alumni Tajul Ulum. Ada yang alumni Tajul Ulum tapi tidak pernah nyantri. Namun semuanya dapat bernaung di bawah organisasi ini.

Ada beberapa nama yang sempat diwacanakan. Setelah diadakan salat istikharah, beberapa kawan, termasuk Muhammad Habib, SHI (alm), Ali Mawahib, SHI, Bahrul Fawaid, SHI, Turmudzi, dan beberapa kawan lain sowan kepada KH Baidhowi Syamsuri untuk memohon berkah dan bimbingan. KH Baidlowi Syamsuri kemudian merestui nama ALTAISIR. Nama ini adalah kependekan dari Alumni Tajul Ulum in Sirojuth Tholibin. Dalam pesannya yang disampaikan kepada segenap alumni, KH. Baidlowi selalu menekankan agar para santri tetap berpegang teguh pada ajaran Islam ala ahlussunnah wal jamaah dan tetap istiqamah menjalankan tradisi santri.

Berbekal restu dari sesepuh dan pengasuh inilah, kemudian dibentuklah perangkat kelembagaan formal. Mulai dari kepengurusan, AD/ART, lambang organisasi, dan seterusnya. Generasi pertama ini kemudian memilih Muhammad Habib, SHI (alm) sebagai ketuanya. Anggotanya adalah sebagian besar angkatan 2002 di IAIN Walisongo. Kegiatan yang dilakukan adalah diskusi rutin, silaturahmi ke pondok dan madrasah (terutama saat haul KH Syamsuri Dahlan dan Idul Fitri), halal bi halal, dan kegiatan-kegiatan lain yang bersifat kesantrian dan intelektual.

Merentang Sayap
Setelah berjalan kira-kira setahun, dilakukanlah pergantian kepengurusan. Tampuk kepemimpinan berpindah kepada Bahrul Fawaid, SHI. Generasi yang berperan masih angkatan 2002 dan terbatas di IAIN Walisongo. Hal ini mengingat minimnya alumni MATU/SIRBIN lulusan 2003 yang melanjutkan studi di IAIN Walisongo, sehingga kepemimpinan masih bertengger di angkatan 2002. Pada tahun 2004 kondisinya tak jauh berubah, apalagi alumni MATU/SIRBIN yang melanjutkan studi di IAIN Walisongo hanya ada 3 orang: yakni Husein (PAI FT), Nasrudin (AS FS), dan Jauhar Mama Umaya (TB FT). Pada tahun 2004 ini, ALTAISIR kurang berkembang.

Baru pada 2005, kepemimpinan bergeser kepada Husein dan angkatan 2004. Mengingat minimnya alumni MATU/SIRBIN di IAIN Walisongo, maka kepengurusan generasi ini kemudian melebarkan sayap ke kampus-kampus lain di seputar Semarang, seperti IKIP PGRI, UNDIP, dan UNNES. Jumlah anggotanya kemudian bertambah. Kegiatan kesantrian dan intelektual terus digalakkan dari satu kampus ke kampus lain, dengan menjadikan IAIN Walisongo sebagai sentrumnya.

Silaturahmi yang awalnya hanya ke SIRBIN kemudian dikembangkan ke Tajul Ulum. Puncaknya, ALTAISIR mendapat kepercayaan dari MATU untuk menggelar pelatihan MBS (Masa Bar Sekolah) pada 2006/2007. ALTAISIR diminta memberikan pembekalan bagi para siswa MATU kelas 3 yang baru saja menyelesaikan UAN. Pembekalan ini seputar apa saja yang biasa terjadi setelah lulus MA dan apa saja yang perlu disiapkan untuk mengantisipasinya, apa saja peluang dan tantangan studi di Perguruan Tinggi dan beasiswa, hingga bagaimana menyiasati persoalan perekonomian.

Pembekalan itu rupanya memiliki buntut yang lumayan panjang. Angkatan 2007 dan generasi selanjutnya yang melanjutkan studi di Perguruan Tinggi semakin banyak. Meski pembekalan itu membawa imbas, tapi hal ini tak bisa dilepaskan dari kecenderungan global di kalangan santri bahwa kuliah adalah sebuah keharusan dalam melengkapi portofolio pribadi untuk masa depan. ALTAISIR di IAIN Walisongo sempat membentuk kepanitiaan nonformal untuk mendampingi para alumni MATU yang hendak mendaftar di IAIN Walisongo. Beberapa kawan yang membutuhkan tempat penginapan dan tempat mukim, ALTAISIR mencoba memfasilitasinya.

Beruntung, generasi ALTAISIR angkatan 2002 dalam hal ini Muhammad Habib, SHI (alm) diamanahi sebagai lurah Asrama Mahasiswa Walisongo. Sehingga, para alumni MATU yang belum mendapatkan tempat menginap bisa singgah sementara di asrama. Beberapa alumni MATU juga disalurkan untuk menjadi takmir di masjid, musala, sekaligus TPQ untuk mensyiarkan Islam. Sekaligus, mereka mendapatkan tempat bernaung secara cuma-cuma.

Angkatan 2004 termasuk lama dalam memegang kepengurusan, setidaknya sampai tahun 2008 ketika angkatan 2007 sudah mulai mahir dalam mengelola organisasi. Kepemimpinan kemudian berpindah ke generasi 2007, mengingat angkatan 2005 dan 2006, tak banyak alumni MATU dan SIRBIN yang melanjutkan studi di Perguruan Tinggi. Ketua dipegang oleh Himam Nasiruddin. Selepas 2009, saya tak banyak lagi terlibat dalam kegiatan ALTAISIR karena hijrah ke Jogja.

Alaa kulli haal. Satu hal yang menjadi catatan penting. ALTAISIR didirikan bukan sekadar wadah berkumpul dan grubyak-grubyuk. Lebih dari itu, ALTAISIR berkait dengan soal hidup-mati identitas santri di dada para alumni pesantren, wahana dalam bertarung melawan kultur baru, bernegosiasi dalam hal etika, norma baru, dalam dunia global yang semakin menisbikan tata nilai dan norma. Bagi almamater, ALTAISIR adalah ruang untuk mengelola alumni.

M. Nasrudin
Ayah dari seorang anak. Suami dari seorang istri.

Berproses di MATU dan SIRBIN (2001-2004), IAIN Walisongo dan ALTAISIR (2004-2009).