30 November 2011

Genealogi Etika Bisnis


Manusia bukanlah makhluk yang independen. Ia tergantung pada banyak hal yang ada di luar dirinya (liyan).  Saat lahir, ia tak ubahnya seperti “telur pecah”, yang tak punya daya untuk melakukan apa pun, bahkan untuk mempertahankan dirinya. Yang bisa dilakukannya hanyalah menangis. Sehingga, pada titik ini, seorang manusia membutuhkan bantuan untuk bertahan hidup dari orang-orang sekelilingnya. Fisik manusia juga terbatas dan amat tergantung pada banyak hal: makanan, pakaian, tempat tinggal, kasih sayang, dan sebagainya.

Manusia secara terus-menerus bergantung agar ia bisa bertahan hidup dan mengembangkan kehidupannya. Dan, jumlah manusia dari waktu ke waktu terus bertambah. Di sisi lain, sumber daya alam pemenuhan terbatas, baik jumlah dan waktunya. Sebab itu, manusia perlu melakukan pelbagai upaya, mulai dari pemberdayaan dan pembudidayaan sumber daya pemenuhan (dengan bertani, beternak, dsb).

Ketika ia melakukan pemberdayaan dan pembudidayaan, maka ia mengalami surplus atas sumber daya, dan defisit sumber daya yang lain. Karena, kebutuhan manusia tidak hanya satu macam saja. Seorang petani membutuhkan garam untuk memasak dan pakaian dari kulit binatang atau bulunya. Seorang petani garam atau nelayan memiliki banyak garam dan ikan, tapi ia tidak punya beras atau hasil bumi. Penggembala surplus kulit hewan atau bulu biri-biri yang bisa dijadikan pakaian, tapi ia tidak bisa memproduksi hasil bumi dan garam atau ikan. Ketiga person ini bisa memenuhi segala kebutuhannya dengan melakukan pertukaran atau barter dalam bentuk yang sederhana.


26 November 2011

Membaca yang Tak Tertulis


“Bukan membaca di sepanjang baris, melainkan membaca di antara baris.” Begitu kata Fung Yulan, seorang filsuf Tiongkok kontemporer, tatkala memberikan wejangan, apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang yang hendak mempelajari filsafat Tiongkok. Karena, para filsuf Tiongkok tidak menuliskan apa yang dikatakan, melainkan menulis apa yang dipikirkannya.


Kutipan di atas penulis temukan saat menyunting naskah Sejarah Filsafat Tiongkok. Naskah ini ditulis oleh Budiono Kusumohamidjojo, seorang pengajar Filsafat Tiongkok di Universitas Parahyangan. Dari wejangan Fung Yulan di atas, kita akan menemukan karakter yang berbeda antara filsafat Tiongkok (baca: filsafat Timur) dengan filsafat Barat.


Filsafat Barat, berlandas rasio, riuh menyuarakan apa yang mereka baca dan tulis. Sedang filsafat Timur membaca dalam senyap, apa yang tak-tertulis dan tak-terkatakan. Filsafat Barat menitikberatkan pada kebebasan dan penghargaan (berlebih) pada individu. Dan saat bersihadap, maka tiap-tiap individu menuntut eksis: terjadilah kompetisi, survival of the fittes. Sebaliknya, filsafat Timur menekankan komunitas. Sehingga, kuatlah kerja sama.


Kutipan di atas ini menarik, bukan hanya karena saat ini Tiongkok sedang mengalami masa perkembangan yang luar biasa, melainkan lebih sebagai bahan bacaan dan becermin, bahwa ternyata, ada yang berbeda dalam paradigma dasar bangsa Timur dan Barat. Tidak hanya Tiongkok, karena Timur juga melingkup Asia. Maka tidak mengherankan, karakter ini kemudian bisa dirasakan pada hampir seluruh tradisi agama dan kepercayaan di Asia.

22 November 2011

Tahu Bodoh



Semakin banyak kita belajar dan membaca, maka kita semakin sadar bahwa di luar sana ada banyak hal yang belum kita ketahui-pahami. Ujung-ujungnya, makin kita sadar bahwa kita makin bodoh. Jika sudah begini, masih ada alasan untuk sombong? Rasa-rasanya tidak. Maka benar bulir padi yang makin berisi makin merunduk.

Sebaliknya, ketika kita merasa sudah mengetahui dan menguasai sesuatu, maka saat itu kita menutup akses diri kita atas pengetahuan baru. Ketika kita dihadapkan pada satu judul bukulalu bergumam, “Ah, paling isinya cuma begini dan begitu”, detik itu juga kita menutup akses kita akan pengetahuan baru dari buku tersebut. Dan menjadi makin bodoh betulan.

Maka menarik sekali kategorisasi yang dibikin oleh Hujjatul Islam Imam al-Ghazali bahwa manusia bisa diklasifikasikan ke dalam empat sifat. Pertama, mereka yang tahu (baca:sadar) bahwa dirinya tahu. Kedua, mereka yang tak tahu (baca: sadar) bahwa dirinya tahu. Ketiga, mereka yang tahu bahwa dirinya tidak tahu. Dan yang terakhir, ini yang parah: mereka yang tak tahu bahwa dirinya tak tahu.

Terserah kita hendak masuk klasifikasi yang mana. Bebas kok. :)

Catatan-tepi dari diskusi di Forum Kajian Ushul Fikih 


18 November 2011

Sweeping vs Makmurkan Masjid


detik.com
“Saya perintahkan untuk men-sweeping masjid-masjid NU di seluruh Indonesia.” Kata Nusron Wahid saat harlah ke-77 Gerakan Pemuda (GP) Ansor beberapa waktu lalu (detik.com). Ia memerintahkan jajaran GP Ansor dan Banser untuk men-sweeping masjid NU dari mereka yang berjenggot, bercelana cingkrang, dan berdahi hitam. Instruksi ini dikeluarkan menyusul penetapan pemerintah siaga satu menghadapi gerakan radikalisme. Instruksi Ansor ini juga didukung PBNU.

Secara umum kita mengapresiasi kesigapan segenap elemen bangsa, terutama GP Ansor dan Banser (Barisan Ansor Serbaguna) untuk mengamankan NKRI, dan khususnya masjid NU dari serbuan gerakan radikal, baik yang berorientasi gerakan keagamaan, politik, NII, sampai terorisme. Namun, ada tiga hal yang harus dicermati. Pertama, mengapa masjid NU bergeser menjadi basis gerakan radikal. Kedua, mengapa tindakan yang diambil adalah sweeping. Ketiga, mengapa yang di-sweeping adalah mereka yang berjenggot panjang, bercelana cingkrang, dan berdahi hitam?

12 November 2011

Nation/Bangsa


Siapa saya? Ini pertanyaan sadar yang sangat radikal. Bagaimanapun juga, pengenalan diri adalah hal yang mutlak dan mendasar dalam setiap insan. Dalam proses ini diperlukan identitas. Identitas dibentuk dengan menemukan distingsi. Apa yang berbeda di satu sisi dan yang sama di sisi lain: saya dan Anda, kami dan kalian.

Ketika jumlah manusia makin banyak, karenanya identitas makin kompleks dan rumit. Tapi mereka sebagai komunitas, lagi-lagi butuh pengenalan diri, identitas. Identitas memang jadi problem paling purba. Plato dan Aristoteles membedakan Helenis dan Barbar (Asia Kecil)--- sebuah sebutan onomatope dari percakapan Barbar di telinga Helenis. Orang Arab mengenal Arab dan ‘Ajam, badui dan madani.

Grosby menuliskanThe nation is a territorial community of nativity. Berkait dg kelahiran (hubungan darah). Berkait dg komunitas-kekerabatan. Berbeda dg keluarga, karena nation terikat teritori. Berbeda dg kekerabatan teritorial lain (suku, negara-kota, atau kelompok etnis) tak semata-mata karena wilayahnya yang luas, melainkan karena keseragaman-relatif kultur yang menciptakan stabilitas sepanjang jaman.

Pendahuluan eksistensi nation tak harus fakta, melainkan juga ingatan (bersama) yang terdapat dalam masing2 orang yang menjadi anggota sebuah nation, ttg masa lalu. Masa lalu tak harus fakta, tapi bisa legenda, mitos. Tidak harus akurat. Jepang tak bisa lepas dari kekaisaran Yamato (abad 4-7 M) sbg titisan dewa matahari (Amaterazu). Atau wabah penyakit yang menyebabkan nation Yahudi eksodus dari Mesir, juga tentang tanah yang dijanjikan dalam Bibble.

Pemahaman akan perbedaan “historis” ini memberikan pemahaman akan siapa kami yang berbeda dengan kalian. Seorang anak dilahirkan belajar memahami dan menggunakan bahasa nation, memahami nilai dan hukum yang berlaku di nation tersebut. Ia belajar kepada orang lain di dalam nation di mana ia menjadi anggotanya. Kemudian membentuk kesadaran kolektif, konsekuensi relasi sosial dalam sebuah tradisi. Juga kesadaran-diri kolektif. Mereka yang percaya dg dewa matahari berbeda dg yang tidak. Kesadaran-diri kolektif ini mewujud dalam kehidupan keseharian, pakaian yang dikenakan, bahasa yang digunakan, sistem nilai yang dianut, agama yang dipeluk.

Kesadaran akan masa lalu ini juga berkait dengan sebuah ruang, tepatnya teritori tertentu. Tempat di mana seseorang dilahirkan. Mereka yang dilahirkan di tempat yang sama punya semacam ikatan bersama, meski waktu kelahirannya berbeda. Relasinya bisa dalam bentuk penamaan Germany-German, England-English, Kurdi-Kurdistan. Misal, I’m English (baca: saya lahir di Inggris). Bagaimana dengan (pulau) Jawa-(nation) Jawa, (bangsa) Aceh-Aceh?

Pemantik diskusi wijilan 9 November 2011