06 July 2016

Khutbah Idul Fitri 1437 H: Menginsafi Dua Fitrah Manusia




=== الخُطْبَةُ الأُولَى ===


اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ
اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ
اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، وللهِ الحمدُ

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَتَمَّ لَنَا شَهْرَ الصِّيَامِ، وَأَعَانَنَا فِيْهِ عَلَى الْقِيَامِ، وَخَتَمَهُ لَنَا بِيَوْمٍ هُوَ مِنْ أَجَلِّ الْأَيَّامِ، وَنَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، الواحِدُ الأَحَدُ، أَهْلُ الْفَضْلِ وَالْإِنْعَامِ، وَنَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنَبِيَّنَا مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ إلَى جَمِيْعِ الْأَنَامِ، اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ التَّوْقِيْرِ وَالْاِحْتِرَامِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.  أَمَّا بَعْدُ

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ تَعَالَى: يَا أَيُّهاَ الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنتُمْ مُّسْلِمُوْنَيَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ، وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ، وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ



Jamaah idul fitri yang dimuliakan Allah,

Mengawali khutbah ini, khatib berpesan kepada diri sendiri dan kepada sekalian jamaah untuk meningkatkan iman dan takwa kepada Allah swt. 

Ittaqillah haqqa tuqaatih. Bertakwa dengan sebenar-benarnya takwa. 

Ittaqillaha haitsuma kunta. Bertaqwalah di mana pun dan kapan pun kita berada.


* * *

Jamaah idul fitri yang dilindungi Allah,

Bayangkan kita sedang membawa segenggam beras. Lalu kita sebarkan di hadapan sekumpulan ayam. Apa yang terjadi? Kita bisa pastikan bahwa ayam-ayam itu akan berkerumun, berebut beras yang kita tebarkan tadi. Tidak ada yang seekor ayam pun yang berdiam di pojokan kecuali ayam yang sakit. Semua berebut seolah semua itu adalah miliknya sendiri.

Sekarang bayangkan hal lain.

Suatu ketika kita masuk ke dalam suatu ruangan. Tak ada siapa-siapa di situ. Tapi di atas meja terdapat segelas teh hangat. Apa yang kita lakukan? Apakah kita langsung meminum teh tersebut? Belum tentu. Boleh jadi kita akan berpikir, teh ini milik siapa? Teh ini disiapkan untuk siapa? Untuk saya atau untuk siapa? Apakah saya berhak untuk meminum teh ini? Jika saya berhak atas teh ini, apakah minuman ini baik bagi tubuh saya atau justru sebaliknya?

Beragam pertimbangan muncul sebelum akhirnya kita memutuskan sesuatu: meminumnya atau tidak. Begitulah manusia. Inilah fitrah manusia yang pertama.

Manusia oleh Allah swt diberi anugerah berupa momentum jeda antara membuncahnya hasrat dan pemenuhan atas hasrat tersebut. Momentum jeda inilah yang membedakan antara manusia dengan makhluk lain. Ketika beras tersebar, ayam akan langsung menyantapnya tanpa berpikir apakah ini disajikan untuknya atau bukan. Apakah beras ini halal atau tidak. Apakah beras ini beracun atau tidak. Tidak pernah ada pertimbangan.

Tetapi manusia berbeda. Manusia memiliki pertimbangan sebelum memutuskan atau melakukan suatu tindakan. Inilah keunikan atau fitrah manusia yang pertama.

Allah mewajibkan kita berpuasa, salah satunya untuk melatih kita agar kita lebih tajam dan insaf terkait momentum jeda ini. Air minum dan makanan milik kita sendiri yang jelas-jelas halal tidak kita konsumsi jika memang batas berbuka belum tiba. Apalagi makanan dan minuman yang tidak jelas asal-usulnya, apalagi makanan yang jelas-jelas haram.

Mengasah momentum jeda melatih kita untuk menjadi pribadi yang matang dan dewasa. Tidak reaksioner dalam merespons segala sesuatu. Kita tidak cepat marah. Tidak gampang menyalahkan orang lain, apalagi sampai menunjuk orang lain sebagai sesat atau kafir. Kalau ada informasi yang berpotensi membuat fitnah segera bertabayun dan tidak langsung menyebarkannya.

Inilah fitrah yang pertama.


Jamaah idul fitri yang dirahmati Allah,

Jika kita menyebar beras sebanyak satu karung sementara ayamnya hanya tiga ekor, maka beras tadi akan tersisa banyak. Karena ayam hanya akan mengonsumsi sebatas kebutuhan biologisnya. Tidak pernah ada cerita di mana ayam membawa pulang sekantong plastik beras dan disimpan di kandangnya untuk dikonsumsi esok hari. Tegasnya, binatang hanya akan mengambil sebatas kebutuhan biologis untuk mempertahankan hidupnya. Tidak lebih.

Tetapi berbeda dengan manusia. Diberi satu kantong plastik beras, kita terima. Diberi satu karung beras, kita bawa pulang. Diberi satu truk pun, tetap kita ambil. Lalu bagaimana cara memakan beras sebanyak itu? ah... itu urusan nanti. Kan bisa dibuat snack dan penganan yang bisa tahan lama. Kan bisa disimpan untuk konsumsi bulan depan. Kan bisa dijual kembali. Begitulah manusia.

Inilah fitrah manusia yang kedua.

Manusia memiliki kemampuan untuk mengonsumsi segala sesuatu melampaui kebutuhan biologisnya. Untuk menahan diri dari hawa dingin dan panas, manusia mengenakan pakaian. Tapi model dan motifnya yang berbeda-beda tentu bukan untuk melindungi tubuh, melainkan untuk memberikan nilai tambah bagi kehidupan.

Untuk menahan diri dari terik matahari dan hujan, manusia membangun rumah. Tapi model dan jenisnya yang beraneka rupa, juga tata kota yang rapi tentu bukan untuk menahan hujan dan terik matahari semata. Jika diarahkan secara positif, fitrah kedua ini mengandung unsur penting untuk pengembangan peradaban dan kebudayaan manusia.

Namun demikian, jika tidak dikelola dengan baik, fitrah manusia yang kedua ini akan membawa kehancuran dan malapetaka.

Karena ingin mendapatkan nilai yang bagus tapi malas belajar, seorang pelajar dengan mudah mencontek saat ujian. Karena ingin memiliki baju baru dan kendaraan baru sementara THR tak kunjung cair, orang bisa saja mencari jalan pintas meski melanggar norma dan hukum. Karena ingin memiliki rumah baru sementara gajinya tidak cukup, seseorang bisa saja korupsi. Menabrak norma, menabrak batas, melanggar hukum, melanggar aturan agama. Begitu seterusnya.

Naudzubillah.

Sebab itulah, Allah swt memerintahkan kita berpuasa. Salah satunya agar kita sadar. Bahwa sebanyak apa pun meja makan kita penuhi makanan dan minuman, ketika azan maghrib bergema toh kita hanya sanggup mengonsumsi seukur lambung kita. Selebihnya sia-sia. Di sinilah sekali lagi Allah mengingatkan kita akan pentingnya mengenal dan menginsafi batas.

Allah berfirman dalam Surat Al-An’am 161,

... كُلُوا مِن ثَمَرِهِ إِذَا أَثْمَرَ وَآتُوا حَقَّهُ يَوْمَ حَصَادِهِ ۖ وَلَا تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ

... Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.


Jamaah idul fitri yang berbahagia,

Selama tiga puluh hari genap, kita dilatih untuk lebih menginsafi momentum jeda dan batas-batas ini. Maka salah satu bukti kesuksesan puasa Ramadhan kita adalah ketika kita makin sadar dan insaf akan momentum jeda dan batas-batas ini.

Al-Quran dalam surat Al-Baqarah 183 menegaskan salah satu tujuan berpuasa:


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ


Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.

Bertakwa lazim dipahami sebagai imtitsâl awâmirillâh wajtinâbu nawâhîhi, menjalankan perintah Allah dan menjauhi segala larangan-larangan-Nya. Untuk bisa menjalankan takwa ini, maka syarat mendasar yang harus kita ketahui adalah mengenal batas-batas. Mana saja yang diperintahkan, mana saja yang dilarang. Mana batas kita sebagai hak pribadi, mana batas kita sebagai makhluk sosial. Kesadaran akan batas akan berimbas pada kesadaran pada posisi dan tanggung jawab yang kita emban.

Atas kesadaran batas dan sadar posisi kemudian kita bertindak secara adil dan bijak. Untuk bisa adil dan bijak, kita harus mampu dan terlatih menginsafi momentum jeda tadi.

Ketika lampu merah masih menyala, kita tidak menerobos karena kita belum berhak untuk berjalan. Di hadapan kasir, kita antre, karena kita sadar akan batas urutan kita. Karena konsumen yang datang lebih dulu lebih berhak untuk dilayani. Suami makin mencintai anak dan istrinya, karena itu adalah hak istri dan anak.

Sadar bahwa itu bukan sandalnya, ya tidak dipakai. Sadar bahwa itu adalah halaman tetangga, ya tidak parkir di situ. Sadar bahwa itu bukan tempat sampah, ya tidak membuang sampah sembarangan. Sadar bahwa waktu sudah malam, ya tidak membunyikan televisi atau kendaraan kencang-kencang. Sadar bahwa pendidikan anak adalah tanggung jawab orangtua, maka kita didik anak dengan sebaik-baiknya.


Jamaah salat ied hafidzakumullah,

Dari sini kita jadi mengerti bahwa sesungguhnya Ramadhan adalah sasana pelatihan yang disediakan Allah lengkap dengan segala fasilitas penunjangnya. Allah memberikan bonus pahala berlipat ganda. Allah menjamin pahala puasa. Allah pun membelenggu setan agar tak mengganggu. Betapa fasilitas yang sangat mewah.

Namun perlu diingat. Karena Ramadhan adalah ruang pelatihan, maka pertarungan sesungguhnya dimulai pada hari ini. Hari-hari inilah pertarungan itu dimulai. Pahala tak lagi berpipat ganda. Jaminan pahala puasa Ramadhan tak lagi berlaku. Belenggu setan tak lagi berlangsung.

Masihkah kita salat jamaah lima waktu? Masihkah kita berpuasa sunnah? Masihkah kita bertadarus? Masihkan kita menginsafi batas-batas? Masihkah kita menginsafi momentum jeda? Apakah kita makin peka terhadap penderitaan sesama atau justru kembali terlupa?

Jika kita mampu menjaga ritme kehidupan dan bahkan menjadi lebih baik. Kita makin insaf fitrah kemanusiaan kita terkait batas dan momentum jeda, maka itulah kita meraih fitrah. Kita kembali kepada fitrah.


Jamaah salat ied yang berbahagia,

Ada sebuah kisah menarik. Sepulang dari salat ied, Sayyidina Ali bin Abu Thalib kw. makan beberapa butir kurma. Ada seorang sahabat yang kebetulan lewat kemudian berkomentar.

“Sayyidina Ali. Ini kan hari lebaran. Kok cuma makan kurma? Mumpung lebaran, makanlah yang enak sedikit. Roti atau apalah.”

Sayyidina Ali menjawab, “Bagi saya, hari di mana saya tidak bermaksiat kepada Allah, adalah hari raya.” Ia kemudian menambahkan ungkapan yang sangat terkenal,

ليس العيد لمن لبس الجديد إنما العيد لمن طاعاته تزيد .

Hari raya bukanlah mengenakan pakaian baru, tapi hari raya adalah hari dimana ketaatan kita bertambah.

ليس العيد لمن لبس الجديد، إنما العيد لمن إيمانه يزيد

Hari raya bukanlah soal mengenakan pakaian baru, tapi hari raya adalah hari dimana iman kita bertambah.

Sayyidina Ali kw. menambahkan

ليس العيد لمن لبس الجديد إنما العيد لمن أمن الوعيد

Hari raya bukanlah soal mengenakan pakaian baru, tapi hari raya adalah hari dimana kita selamat dari ancaman.

Ancaman apa? Ancaman terhadap orang yang merugi dan celaka. Nabi Muhammad brsabda,

من كان يومه خيرا من امسه فهو رابح. ومن كان يومه مثل امسه فهو مغبون. ومن كان يومه شرا من امسه فهو ملعون.

Dalam konteks Idul Fitri, hadits riwayat Hakim ini bisa dimaknai begini: Barang siapa yang setelah lebaran makin baik akan kesadaran fitrahnya, maka ia termasuk orang yang beruntung.

Barang siapa yang setelah lebaran makin menurun kesadaran fitrahnya, masih suka menabrak batas. Masih suka menyebar berita yang berpotensi menimbulkan kegaduhan dan fitnah tanpa tabayun, masih suka menabrak rambu lalu lintas, maka ia termasuk orang yang merugi.

Barang siapa yang setelah lebaran kesadarannya fitrahnya makin parah. Makin suka menyerobot antrean, makin sering buang sampah sembarangan, makin sering mencontek, makin tidak menghargai hak-hak tetangga, makin sering menghalangi hak-hak pekerja, maka kata Rasul, ia termasuk orang yang celaka.

Dari sini kita juga makin insaf, bahwa indikasi Ramadhan kita berhasil bisa dilihat dari masjid dan lingkungan kita. Apakah lingkungan makin ramah anak atau tidak? Apakah lingkungan makin aman atau sebaliknya? Apakah kebersihan makin terjaga atau sebaliknya? Apakah masjid makin ramai atau sebaliknya? Apakah anak-anak makin mendapat perhatian dari orangtuanya atau tidak?

Allah swt berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu sekalian kepada Allah, dan sertailah orang-orang yang jujur.


Jamaah salat Ied yang hafidzakumullah.

Inilah makna dan urgensitas Ramadhan. Di mana di mana kita dilatih selama sebulan penuh untuk bertarung selama sebelas bulan kemudian. Selama sebulan kita dikenalkan dan diinsafkan kembali kepada dua fitrah kita sebagai manusia. 

Kedua fitrah tersebut adalah pertama, fitrah akan momentum jeda dalam pengambilan sikap dan bertindak. Di mana manusia mampu berpikir sebelum mengambil tindakan.

Fitrah kedua adalah fitrah akan batas dalam mengonsumsi dan bersikap. 

Kedua fitrah ini setelah dikenali kemudian harus dikendalikan dan diarahkan secara bijak untuk ditujukan pada hal-hal yang positif. 

Demikian khutbah yang dapat saya sampaikan, mohon maaf atas segala kesalahan.
Selamat hari raya idul fitri, mohon maaf lahir dan batin.

تَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ
اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْ عِيْدِنَا، وَأَعِدْهُ عَلَيْنَا أَعْوَامًا عَدِيْدَةً
أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ: أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ أنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ، قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ، إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ.  الزمر: 9

 جَعَلَنَا اللهُ وَاِيَّاكُمْ مِنَ اْلعَائِدِيْنَ وَاْلفَائِزِيْنَ وَاْلمَقْبُوْلِيْنَ، وَاَدْخَلَنَا وَاِيَّاكُمْ فِى زُمْرَةِ عِبَادِهِ الصَّالِحِيْنَ. وَاَقُوْلُ قَوْلِى هَذَا، وَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ لِي وَلَكُمْ وَلِوَالِدَيَّ وَلِسَائِرِ اْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ، فَاسْتَغْفِروهُ اِنَّهُ هُوَاْلغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ




=== الخُطْبَةُ الثَّانيةُ ===

اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ
اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ، اللَّهُ أَكْبَرُ
اللهُ أكبرُ، وللهِ الحَمْدُ

الْحَمْدُ لِلَّهِ الرَّحِيمِ الرَّحْمَنِ، أَمَرَ بِالتَّرَاحُمِ وَجَعَلَهُ مِنْ دَلاَئِلِ الإِيمَانِ، أَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ عَلَى نِعَمِهِ الْمُتَوَالِيَةِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَنبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللَّهِ وَرَسُولُهُ، الرَّحْمَةُ الْمُهْدَاةُ، وَالنِّعْمَةُ الْمُسْدَاةُ، وَهَادِي الإِنْسَانِيَّةِ إِلَى الطَّرِيقِ الْقَوِيمِ، فَاللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا وَنبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ، وَعَلَى مَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ

أَمَّا بَعْدُ: فَأُوصِيكُمْ عِبَادَ اللَّهِ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ. إنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى فِيْهِ بِمَلَائِكَتِهِ، فقَالَ تَعَالَى: إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. وقالَ رسولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْراً. اللَّهُمَّ صلِّ وسلِّمْ وبارِكْ علَى سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ الْأَكْرَمِيْنَ، وَعَنِ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اللهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ الْاَحْيآءِ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ

اللَّهمّ إلَيْكَ نَشْكُو ضَعْفَ قُوَّتِنا، وَقِلَّةَ حِيْلَتِنَا، وَهَوَانَنَا عَلَى النَّاسِ، يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ، أَنْتَ رَبُّ الْمُسْتَضْعَفِينَ، وَأَنْتَ رَبُّنَا، إلَى مَنْ تَكِلُنا، إلَى بَعِيدٍ يَتَجَهَّمُنَا، أَمْ إلَى عَدُوٍّ مَلَّكْتَهُ أَمْرَنَا، إِنْ لَمْ يَكُنْ بِكَ عَلَيْنَا غَضَبٌ فَلَا نُبَالِي، وَلَكِنَّ عَافِيَتَكَ هِيَ أَوْسَعُ لَنَا، نَعُوْذُ بِنُورِ وَجْهِكَ الَّذِي أَشْرَقَتْ لَهُ الظُّلُمَاتُ ، وَصَلُحَ عَلَيْهِ أَمْرُ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ مِنْ أَنْ تُنْزِلَ بِنا غَضَبَكَ، أَوْ يَحِلَّ عَلَيْنَا سُخْطُكَ، لَكَ الْعُتْبَى حَتَّى تَرْضَى، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إلَّا بِكَ

اللهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ، وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ اْلبُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَاِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ


عِبَادَاللهِ، إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلاِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِى اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ.



Khutbah ini disampaikan di Masjid Baitun Naim Saman, Bangunharjo, Sewon, Bantul DI Yogyakarta. 1 Syawal 1437 H/6 Juli 2016.

05 July 2016

Konsekuensi Syar'iy Meninggalkan Puasa




Hukum puasa Ramadhan adalah fardhu ain bagi mereka yang sudah menetapi syarat wajib puasa. Sepanjang sudah ditunaikan dengan memenuhi syarat sah dan rukunnya, maka puasa yang kita lakukan dihukumi sah. Dalam konteks ini, kewajiban puasa kita menjadi gugur. Tentu saja, kita tidak berkewajiban untuk qadha puasa.

Namun demikian, ada kalanya puasa yang kita lakukan ternyata tidak sah atau batal. Ada kalanya juga, secara sengaja atau tidak, kita tidak berpuasa karena ada uzur tertentu. Terhadap puasa yang ditinggalkan, ada beberapa konsekuensi yang timbul.

Terhadap puasa yang terlewat ini ada dua mekanisme umum yang bisa ditempuh, yakni qadha dan membayar fidyah. Qadha adalah mengganti puasa Ramadhan yang ditinggalkan pada hari-hari lain di luar Ramadhan sesuai dengan jumlah hari di mana ia meninggalkan puasa.

Sementara fidyah adalah membayarkan bahan makanan pokok. Untuk sehari tak berpuasa, bahan makanan pokok yang dibayarkan adalah 1 mud atau sekira 700 gram, berlaku kelipatan. Fidyah ini diberikan kepada fakir dan miskin terdekat dari domisili dia. 

Fidyah bisa dibayarkan secara harian atau secara langsung. Semisal ada orang yang tak berpuasa selama lima hari, ia bisa membayar fidyah per hari atau lima hari sekaligus. Bisa juga ia memberikan kepada lima orang fakir miskin (ini yang utama) atau kepada satu orang fakir miskin.

Para ulama kemudian merinci dua ketentuan umum tadi sehingga muncul empat ketentuan khusus terkait orang yang meninggalkan puasa. Keempatnya adalah: (i) tidak wajib qadha dan tidak pula fidyah; (ii) wajib qadha, tidak wajib fidyah; (iii) tidak wajib qadha, tapi wajib fidyah; dan (iv) wajib qadha dan fidyah sekaligus.


Tidak wajib qadha dan tidak pula fidyah

Ketentuan pertama ini berlaku bagi siapa saja yang baru saja masuk Islam atau mualaf. Bagi orang ini seluruh hukum Islam baru saja berlaku, mulai dari nol. Ia dianggap seperti bayi yang baru lahir sehingga tidak memiliki tanggungan apa pun dalam hal ubudiyah. Ia dianggap tidak memiliki dosa atau kewajiban yang harus dilunasi ketika ia masuk Islam.

Selain mualaf, ketentuan ini juga berlaku bagi orang gila. Orang gila dianggap tidak bisa memenuhi klasifikasi mukallaf sehingga baginya tidak berlaku hukum syariah. Nabi bersabda, malaikat mengangkat pena (rufi’a al-qalam) dari mencatat amal perbuatannya.


Wajib qadha, tidak fidyah

Ketentuan kedua ini berlaku bagi siapa saja yang secara sadar karena ada uzur atas dirinya sendiri atau tanpa uzur sehingga ia tidak berpuasa. Uzur ini bisa bersifat syar’iy atau bukan syar’iy. Uzur syar’iy adalah uzur atau kerepotan yang secara syariat diperkenankan menjadi alasan untuk munculnya hukum yang menyimpang dari ketentuan umum, dalam hal ini boleh tidak berpuasa.

Contoh uzur syar’iy seorang perempuan yang datang bulan, nifas, atau melahirkan, maka ia tidak memenuhi syarat sah untuk berpuasa, sehingga puasanya tidak sah dan ia pun tidak berkewajiban untuk berpuasa. Sama halnya dengan ibu hamil yang khawatir akan kesehatan dirinya lalu berbuka. Mereka diwajibkan menganti puasa pada hari yang berbeda.

Kerepotan lain yang termasuk uzur syar’iy adalah orang yang sedang dalam perjalanan (musafir) memenuhi syarat tertentu lalu tidakberpuasa. Maka ia berkewajiban untuk mengqodho puasa yang ditinggalkan.

Adapun uzur yang tidak syar’iy misalnya sengaja membatalkan puasa. Dalam hal ini, mereka berkewajiban untuk mengqadha puasa pada hari yang lain. Mereka yang masuk dalam klasifikasi kedua ini tak diwajibkan untuk membayarkan fidyah. Mereka juga tidak bisa mengganti puasanya dengan fidyah.


Tidak wajib qadha, wajib fidyah

Ketentuan ketiga ini berlaku bagi mereka yang secara fisik tidak mungkin untuk berpuasa karena sangat lemah. Misalnya seorang kakek yang sangat sepuh yang tak mampu berpuasa. Ia cukup membayarkan fidyah, karena kemungkinan untuk menjadi kuat berpuasa di masa depan nyaris tidak ada.

Hal yang sama juga berlaku bagi orang yang mengalami sakit yang cukup parah dan menurut pandangan medis, kemungkinan sembuhnya sangat kecil. Kita jadi mengerti ia tidak punya kesempatan untuk mengqadha puasa. Sebab itu mereka tidak diwajibkan qadha, sesuatu yang nyaris mustahil mereka lakukan.

Sebagai gantinya, mereka diwajibkan untuk membayar fidyah.


Wajib qadha, wajib fidyah

Yang terakhir ini agak berat karena baik qadha ataupun fidyah harus dilakukan. Ketentuan keempat ini berlaku bagi dua orang.

Pertama, orang yang tidak berpuasa lantaran khawatir dengan kesehatan orang lain. Misalnya seorang ibu menyusui yang khawatir akan kesehatan bayinya atau ibu hamil yang khawatir akan kesehatan janinnya. Demikian halnya orang membatalkan puasa karena membantu orang lain, seperti menyelamatkan orang yang tenggelam.

Kedua, orang yang meninggalkan puasa Ramadhan tetapi tidak segera mengqadhanya hingga Ramadhan tahun berikutnya datang. Bagi orang ini, kewajiban qadha tahun lalu tidak gugur, sehingga harus tetap diqadha. Baginya ada penalti berupa membayar fidyah.

Jadi, bagi siapa pun yang memiliki hutang puasa lebih baik segera menyusun rencana kapan puasa akan dicicil. Jangan sampai kesempatan 11 bulan di depan ini terbuang sia-sia.

Demikian semoga bermanfaat.

Wallahu a’lam.



Materi ini disampaikan pada program Kodama Berbagi di Radio Istakalisa 96.2 FM tanggal 29 Juni 2016 pukul 16.00-17.00 WIB.

http://tunein.com/radio/Istakalisa-FM-962-s189377/