18 April 2019

KUIKKON




A: Ustad, gimana hasilnya?
B: Jangan percaya sama hasil kuikkon. Itu semua sudah dibeli sama penguasa untuk menggiring opini.
A: Tapi partai antum dapat banyak, Ustad. Lebih dari 10%.
B: Ya ya ya.... Alhamdulillah.... Sudah benar itu kuikkon. Insyaallah hasil akhirnya tidak meleset.
A: krik krik krik krik.....

13 April 2019

Workshop Aksara Pegon Taman Litera





Tahukah Anda?
Tulisan yang sedang Anda baca ini adalah bahasa Indonesia yang ditulis menggunakan Aksara Latin atau Abjad Rumi.
Lalu tahukah Anda?
Aksara Latin belum lama kita gunakan dalam keseharian. Setidaknya aksara latin baru populer sejak Pemerintah Kolonial Belanda menerapkan Kebijakan Politik Etis pada awal abad ke-20.
Sebelum itu, berabad-abad lamanya bangsa kita menggunakan bahasa dan aksara daerah untuk berkomunikasi secara tertulis di daerah-daerah. Dan ketika berkomunikasi antar daerah, bangsa kita menggunakan bahasa Melayu pasar dan aksara Pegon atau aksara Jawi.
Aksara Pegon dan Aksara Jawi selama berabad-abad menjadi aksara resmi ratusan Kesultanan di Kepulauan Nusantara, Melayu, hingga Filipina. Bahkan pemerintah Kolonial Belanda juga menggunakan aksara ini dalam dokumen-dokumen resminya.
Puluhan ribu kitab dari berbagai disiplin keilmuan dikarang dalam berbagai bahasa mulai dari Sunda, Jawa, Lampung, Madura, Banjar, hingga Melayu. Mayoritas kitab tersebut ditulis dalam aksara Pegon atau Jawi.
Singkat kata, Aksara Pegon dan Aksara Jawi menyimpan khazanah keilmuan yang tak ternilai. Sebab itulah, kemampuan mengakses Aksara Pegon dan Aksara Jawi menjadi kunci untuk membuka kotak harta karun keilmuan.
*Workshop Aksara Pegon*
Taman Litera dan Lentera Hukum akan menggelar Workshop Aksara Pegon. Workshop ini terbuka bagi siapa saja dengan ketentuan:
1. Berusia 17-30 tahun
2. Bersedia mengikuti seluruh kegiatan
3. Memiliki kemampuan dasar membaca Iqra.
4. Diutamakan mahasiswa.
Workshop akan diselenggarakan di Taman Litera, 39B Batanghari pada 14 April 2019 pukul 08.00-16.00 WIB.
Kontribusi sebesar Rp 25.000. Peserta akan mendapatkan:
1. Materi beserta modulnya.
2. Kitab pegon sebanyak dua judul
3, Makan siang
4. Snack
5. Ilmu pengetahuan
6. Teman baru
7. Sertifikat.
Informasi lebih lanjut silakan hubungi panitia Andi: 0857 0960 1719
Pendaftaran bisa melalui tautan ini:

09 April 2019

Segmentasi Elektoral



Strategi politik elektoral biasanya dijalankan sesuai dengan segmen yang ditarget.
Untuk kaum yang primordial-mindset, disiapkan politik identitas.
Untuk kaum yang nasionalis, disiapkan isu asing dan aseng.
Untuk kaum terdidik dan aktivis, disiapkan media kritis. Kalau perlu dalam wujud multimedia, film, diputar di sana sini, dlsb.
Untuk kalangan NU, disiapkan tokoh NU.
Untuk kalangan Muhammadiyah, ya disiapkan tokoh MD.
Untuk kalangan ekonomi bawah, disiapkan isu ekonomi, bila perlu disiapkan sembako sekalian.
Sesuai segmenlah... Hehe 😁
Sebab itu, yang perlu dilakukan adalah kita harus kembali ke akar.
Akar adalah (secara berurutan):
1. karakter dasar calon pemimpin,
2. rekam jejak,
3. visi, misi,
4. keluarga dekatnya,
5. orang-orang di sekitarnya.
Udah.

02 April 2019

Khilafah bukan Bagian dari Syariat




Jika khilafah merupakan bagian dari Syariat, tentu Rasul akan mendirikan khilafah atau mengangkat dirinya sebagai Khalifah.

Faktanya, sampai Rasul wafat, Rasul tak pernah melakukan itu. Padahal Rasul punya kuasa penuh untuk melakukannya.


Itu artinya, khilafah bukan bagian dari syariat. Karena agama Islam sudah sempurna saat Rasul wafat (baca QS Al Maidah: 3).

Sebab itulah sangat wajar jika tidak ada ayat yang menuturkan kata khilafah.

Jika semua hal yang tidak ada dalilnya adalah sebuah bi'dah, maka bisa dibilang khilafah adalah bagian dari bi'dah.

Lalu bagaimana posisi khilafah dalam Islam?

Khilafah adalah perkara ijtihadiyah. Khilafah tidak berada pada domain aqidah. Sebab itulah rukun Islam ataupun rukun iman tidak mencantumkan khilafah.

Maka mengingkari atau menerima khilafah tidak ada sangkut pautnya dengan keimanan seseorang. Menolak khilafah tidak mengganggu iman.

Nah... Ketika khilafah berada pada domain ijtihadiyah, maka ia berada pada spektrum ruang dan waktu.

Sebab itulah ia bersifat temporer dan kontekstual. Dalam alam abad ke-7 dan di Timur Tengah, saat itu khilafah kontekstual.

Tetapi untuk saat ini, bahkan di Timur Tengah sendiri, khilafah sudah tidak relevan lagi. Apalagi di belahan dunia lain.

Apa buktinya?

Penolakan terhadap ideologi khilafah oleh belasan negara Arab secara ramai-ramai.

Bahkan Arab Saudi yang mengklaim sebagai negara yang berasaskan Islam pun menolak khilafah.

Belasan negara Arab memasukkan Hizbut Tahrir ke dalam organisasi terlarang.

Ini artinya, khilafah adalah sisa peradaban yang sudah tidak dipakai bahkan oleh bangsa-bangsa yang dulu pernah bangga menggunakannya.

Begitu.