Skip to main content

Napak Tilas Leluhur ke Mangunranan (4): Sayang Dirsan di antara Mangunranan dan Pekutan

 

Makam Sayang Dirsan Kakung


Setelah bertemu Lek Syapingi Mbah Muhyidin segera mengutarakan maksud. Bahwa saya ingin diantarkan untuk berziarah ke makam Mbah Buyut Madirsan.

Saya tanya, "Lek Sapingi benjang saget?" 

"Wah, besok saya dodos pari. Tadi belum selesai."

"Kalau sekarang pripun?"

"Yo ra popo."

Saya terus pamit mengantarkan Mbah Muhyidin pulang dan segera kembali ke rumah Lek Sapingi. 

Bersama Lek Sapingi saya kembali ke pemakaman desa Mangunranan yang tadi. 

Rupanya Mbah Buyut Madirsan dimakamkan hanya berselang 15 meter, timur pusara Mbah Buyut Sardini.

Nisannya sudah sepuh. Makam Mbah Kakung nisannya utuh. 

Sedangkan nisan Mbah Putri tampak seperti dipangkas agar ada tanda cekungan untuk menandai bahwa yang sumare adalah seorang perempuan.  


Makam Sayang Dirsan Putri.

* * * 

"Iki sekare Sayang Dirsan Kakung. Iki Sayang Dirsan Putri", kata Lek Syapingi menunjukkan nisan sepuh. 

Saya agak kaget kok dipanggil "Sayang Dirsan". Tapi itu nanti kita bahas...

Saya langsung bersimpuh. Sama seperti tadi. 

Kali ini ada perasaan haru, senang, dan perasaan aneh yang memenuhi rongga dada. 

Ada rasa kangen yang lunas terbayar.

"Ah... Mbah, buyutmu ini datang menjengukmu." 

Segera saya bersalam dan mengenalkan diri.

Lek Syapingi meminta saya untuk memimpin Tahlil. 

Saya bacakan Tahlil dan doa. 


* * *  

Seusia tahlil saya ditunjukkan makam Mbah Sengud, yang nama aslinya Mas'ud. 

Beliau wafat sekira 2 atau 3 tahunan yang lalu. Makamnya hanya berseling 3 nisan dari Mbah Buyut Sardini. 

Mbah Sengud ini adalah adik kandung Mbah Zamzuri. Saya bacakan doa sebentar dan menancapkan kembang. 

Saya kemudian diajak Lek Syapingi tahlil sebentar ke makam mertuanya yang hanya 20 langkah dari makam Mbah Sengud. 

Saya makmum saja.


* * * 

Saya kemudian tanya di mana pusara adik-adik Mbah Zamzuri. 

Mbah Zamzuri ini adalah anak tertua. 

Lek Syapingi bilang bahwa makam Mbah Izudin dan Mbah Solehudin ada di Desa Pekutan, sekitar 1 km ke arah barat dari Desa Mangunranan. 

Saya cek aplikasi NU Online, 15 menit lagi Maghrib. 

Kata Lek Syapingi, cukup kok waktunya. 

Lek Syapingi kemudian mengantarkan saya ke makam Pekutan. 

Gass... 

Kami melewati kebun kelapa dan sawah dengan padi yang sudah menunggu tua tapi terkena angin kemarin sore sehingga banyak yang rubuh. Kasihan para petani.

Serangga malam sudah mulai menerpa wajah, tapi rasa kangen dan penasaran ini terlalu kuat menarik gas motor.


* * *
Kami kemudian masuk ke makam. Di situ dimakamkan Mbah Izzudin kakung dan putri. Keduanya adalah orangtua Lek Syapingi.

Saya tanya. "Tahlil, Lek?..."

"Saya kemarin sudah ziarah. Ini masih ada". katanya sambil menunjukkan taburan bunga di atas pusara yang belum layu.  

Saya kemudian geser ke makam Mbah Solehudin, adik Mbah Izudin yang hanya lima langkah jaraknya. 

Saya kemudian duduk sebentar, membacakan Fatihah.

"Tahlil sekalian?...", Lek Sapingi bertanya.

"Tadi sudah saya jamak pas di makam Mbah Buyut Dirsan"

"Sayang Dirsan"

"Iya, Sayang Dirsan." [n]


Comments

Popular posts from this blog

Muhamad Nasrudin Aqidatul Awam #02 Nazam #01 Makna Basmalah

via IFTTT

Surat untuk Faruq, Anakku Sayang...

Untuk anakku, Faruq. Selamat beranjak dewasa, Anakku.  Faruq, ayah menulis surat ini beberapa hari setelah mengantarkanmu ke Dokter Rudi, yang mengkhitanmu. * * *  Hmm...  Kayaknya baru kemarin pagi, membacakan azan dan mengumandangkan iqamat di kedua telingamu. Kayaknya baru kemarin pagi, mengantarkanmu mengenakan seragam merah putih yang kedodoran. Kayaknya baru kemarin pagi, mengantarkanmu ke pondok untuk ikut mengaji sambil malu-malu kucing. Ah.... waktu begitu cepat.  Tak terasa kini kamu sudah beranjak dewasa. Dan kini sudah menjalani salah satu sunah nabimu, sunah penghulu nabi-nabimu, berkhitan.  * * *  Faruq anakku, ayah tak tahu kapan engkau akan membaca surat ini, tapi ayah berharap engkau berkesemaptan membacanya beberapa saat nanti, dan kembali membacanya kelak, saat engkau sudah benar-benar dewasa. * * *  Faruq anakku, setelah dikhitan, engkau kini bukanlah engkau yang kemarin.  Khitan adalah batas antara kanak-kanak dan kedewasaan. ...

asyik-asyik

Yah inilah dia manusia manusia. Dari kiri Hamdani, Arif The serious man, Nasrudin, Lina, n Ela. Foto diambil di depan kampus IKIP PGRI Jln Dr. Cipto Semarang, kamis terakhir di bulan Maret 2006

Mediasi dan Arbitrase AS C Pertemuan 01

via IFTTT

Prawacana Laporan Utama Majalah Justisia edisi 32

HUKUM, KEPENTINGAN, DAN HAKI: Sampai Mana Kau Temukan Identitasmu Masihkah Anda percaya bahwa hukum tak lain daripada cerminan (hasrat) masyarakat? Jika ya, barang kali Anda perlu sedikit menggeser sudut pandang saat menatap makhluk yang bernama hukum. Cobalah sekali-kali menengok para wakil kita yang terhormat di DPR(D) saat mereka membincang perumusan (regulasi) produk hukum tertentu. Sulit dipercaya. Tapi, begitulah adanya. Para wakil kita memperdagangkan (tepatnya, melelang) regulasi itu. Siapa yang punya daya tawar tertinggi, dialah yang berhak mempersunting regulasi. Dan, berlomba-lombalah mereka yang punya berbagai kepentingan. Celakanya, kepentingan yang mereka perjuangkan acapkali tidak sejalan dengan kepentingan publik. Begitulah, kenyataan memang seringkali melukai dan menodai keinginan. Rakyat kemudian tak lebih sebatas “atas nama”. Nyatanya, fakta berbicara banyak, bahwa banyak aset rakyat diobral, kekayaan bumi pertiwi dikuras habis, hampir saja tak menyisakan ...

Scopus Submission and Review Process in FUAH UIN KHAS Jember

  Awal November lalu saya diundang Fakultas Ushuludin, Adab, dan Humaniora UIN KHAS Jember.  Ini adalah kali kedua saya silaturahmi ke UIN Jember. Di tahun 2018 lalu, saya pernah nyaris 10 hari menginap di IAIN Jember. Waktu itu mendampingi adik-adik ikut lomba sidang semu di Fakultas Syariah. Kali ini bukan untuk sidang semu, tapi untuk sharing tentang bagaimana submit artikel di jurnal terindeks Scopus. Tema yang sedang in dalam beberapa tahun terakhir. Scopus memang menjadi magnet tersendiri. Saya diundang oleh Koordinator pengelola jurnal di Fakultas Ushuludin, Mas Fathoni. Ia kawan baik sejak zaman mahasiswa, saat sama-sama aktif di pers mahasiswa. Saya di LPM Justisia IAIN Walisongo. Fathoni di LPM Poros UAD Yogyakarta. Dan kita aktif di PPMI (Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia). * * *  Oke, kembali ke soal FGD. Di forum ini ada dua hal penting yang saya bahas.  Pertama, bagaimana cara memilih jurnal bereputasi yang pas untuk artikel kita.  Kedua, bagaim...

Intro Mediasi Muhamad Nasrudin SHI MH

via IFTTT