Skip to main content

Catatan kecil di pesantren



Jambu itu ternyata…


Nasrudin el-Andalasy


“Bug …!!!!”
Sebuah jambu masak dan jatuh di depan ndalem[1]. Suerr!!!, ini bukan jambu siluman atau yang dipaksa untuk jatuh oleh ulat-ulat kelaparan. Tampaknya dan yang pasti tak ada yang ganjil. Cuma, malam ini terasa terlalu dingin untuk ukuran pondok pesantren yang terletak di dataran rendah, di tengah-tengah persawahan lagi. Angin malam mengecup dedaunan yang mendesah.
Entah setan mana yang mencoba menggoda kami. Entah dari mana ide itu begitu saja hadir dan mengisi otak kami. Eh, keimanan kami ternyata diuji dengan beberapa ekor kelelawar yang berkelebat diatas kepala kami sambil mencumbui jambu-jambu itu.
“ Kang, mubadzir jambune”, kang Kamid memulai.
“Iyo.. yo .. adem-adem koyo ngene lumayan ono seng rodo seger” kang Udin mengomentari.
“ Bener, jaga malam kog yang ada cuma kopi dan sebatang rokok ,itu pun buat joinan[2] kita berdua ”
“ Lantas ?..”
“ Gimana kalau kita ambil jambu beberapa biji saja? “
“ Jangan lah, kang. dosa itu namanya”
“ Lho… dosa gimana tho… lha wong kalau dibiarkan saja itu namanya memubadzirkan barang. Ini yang dosa !!! ”
“ Iya … tapi itu ‘kan bukan hak kita. Itu milik Pak Yai.”
“ Lho…, kita ‘kan sedang menjalankan tugas berjaga malam. Iya tho?”
“ Betul.!!. lantas??”
“ Berarti kita ‘kan sedikit banyak telah berjasa dengan menjaga keamanan pondok. Apa itu salah, kalau kita ambil beberapa biji. Anggap saja itu sebagai upah.
Terlebih, malam ini begitu dingin. Kopi pun hampir habis dan membeku. Kalau kita sampai tertidur dan terjadi apa-apa di pondok gimana coba …? “
“ Sekali dosa tetap dosa. Titik!! ”
“ Coba pikirkan … kalau jambu itu dibiarkan saja. Maka paling-paling akan dimakan codot atau jatuh, bikin kotor dan kemudian dibuang. Bukankah memubadzirkan barang itu termasuk saudaranya setan”
“Ah.. masa bodoh, justru aku lebih suka jadi saudaranya setan”
“Kog bisa? Bukankah setan itu mencari teman untuk tinggal bersama di neraka.?“
“Lha iya.., yang dicari ‘kan teman, bukan saudara, lagi pula, coba dipikirkan, apa ada macan yang memakan anaknya sendiri? “
“ Wah gak ada tuh !!! “
“ Apa ada, bajingan yang ingin agar anaknya menjadi bajingan, sama seperti dirinya? “
“ Ya gak ada dong!! “
“ Lha kalau demikian, maka semestinya juga setan pun tak akan menggoda saudaranya untuk masuk bersamanya ke dalam neraka. Mengapa? Karena ia kasihan dan gak mau mencelakakan saudaranya. “
“ Iya.. tapi, tahu gak, kenapa setan tak mau menggoda saudaranya? “
“ Ya… karena kasihan itu tadi. Sama seperti bajingan dan macan tadi.”
“ Salah !!”
“ Kog bisa ?”
“ Karena saudaranya jauh lebih bejat ketimbang setan itu sendiri !!”
“ Ah.. ngaco kamu !! ”
“ Lho,.. bener itu !!”
“ Buktinya?”
“ Ya itu tadi … kamu tidak mau mengambil jambu itu ”
“ Apa? Apa ndak kebalik, kang?”
“ Hmmm.. ya ndak!! Bahkan dengan mengambilnya aku termasuk orang yang beriman.”
“ Wah!! jangan ngawur, kang !! ”
“ Apa kamu gak pernah denger kalau kebersihan itu sebagian dari iman.”
“ Iya.. lantas hubungannya apa?”
“Andaikan jambu-jambu itu tak ada yang mengambil, maka paling-paling jatuh ditimpa angin atau ditabrak codot. Kalau jatuh ‘kan bikin kotor. Banyak lalat…ihh…. Jorok!!!. Kalau kita makan maka tak ‘kan ada yang menjadi sampah dan mubadzir.”
“ Wah … sampeyan salah tempat itu, kang “
“ Salah tempat gimana?”
“ Yang mananya jaga itu ya.. dimana saja termasuk di depan ndalem. Lagi pula, tahu ndak kalau Pak Yai itu pasti mengihlaskan semua barang miliknya yang digunakan oleh para santrinya.”
“ Itu kalau santrinya sregep[3] kaya aku!! Lha kalau santri yang seperti kamu itu beda ”
“ Sombong!!!!”
“ Ini realita!! Nyatanya kamu di pondok kerjanya cuma JAN-RU-WET-KOK“
“ Apa itu?”
“ JAJAN, TURU, NGLIWET[4], NGROKOK”
“ Pokoknya sekali jambu tetap jambu. Titik !!
“ Sekarang terserah sampeyan. Aku gak ikut campur.”
“ Tapi ingat lho jangan minta.”
“ Huh!!! bagi ku itu hatram.!!”
“ Bener nih? Kalau gitu, aku mau ngajak Kang Ali dan Kang Hasan. Pasti mereka mau ”
“ Mendingan nderes[5] Alfiyah. Lumayan bisa untuk setoran [6]di hadapan ustadz Arifin besok.”
* * *

Aku pergi menuju pintu serambi masjid sebelah selatan. Sebuah lampu TL menerangi nadzaman[7]ku. Dengan demikian aku masih bisa mengamati setiap gerak-gerik kang Kamid beserta wadyabalanya yang sedang berunding di bagian timur serambi. Kami menyebut tempat itu sebagai ambalan. Sebuah bagian serambi yang menjorok ke depan.
Seorang dari mereka pergi menuju ke arah pohon jambu yang hanya berjarak sekitar dua puluh langkah ke arah utara masjid. Kemudian kembali lagi ke ambalan dengan membawa segenggam jambu masak. Mereka memakan semua itu hanya dalam hitungan detik saja.
Sebetulnya perasaan manusia normalku tetap saja mendorongku untuk –paling tidak- mengobati rasa ngilu di lidahku yang sedari tadi tergoda ranumnya buah jambu itu. Dan ternyata Gusti Allâh masih menyisakan sedikit kesabaran yang tersangkut di ujung lidahku.
Merasa kurang puas, mereka menggelar operasi ronde ke dua. Kali ini tidak tanggung-tanggung, mereka mengerahkan dua personil lengkap dengan berbagai trik dan intrik yang berlainan pula. Seorang di antaranya langsung menuju teras ndalem. Dengan demikian, ia akan lebih mudah untuk mendapatkan jambu karena teras itu dibuat lebih tinggi beberapa puluh senti meter dari permukaan tanah. Terlebih lagi, beberapa dahan pohon itu menyentuh teras ndalem. Dan tentunya, tak ada yang berani mengusik bagian yang satu itu. Akibatnya, bagian yang terlebat buahnya adalah bagian tersebut.
Sedang seorang yang lain mulai menapakkan kakinya melalui rute yang telah ditempuh oleh teman yang pertama kali tadi.
“ Sreek!!! ” Terlihat selarik sinar keluar dari jendela yang tersingkap kain gordennya.
Dan dengan secepat kilat orang yang di depan teras tadi melompat ke arah dinding lalu kemudian merapatkan tubuhnya padanya.
Malangnya seorang yang lain sedang dalam perjalaan menuju pohon jambu itu. Ia tak bisa berbuat apa-apa selain…
“ Kang kuncimu tadi kau lemparkan ke arah mana?” sambil berputar-putar seolah –olah mencari kunci betulan.
Keduanya berlari ke dalam masjid saat kain itu tertutup kembali. Menyusul temannya yang duduk di ambalan dan terlegih dahulu kabur ke dalam masjid. Dan tak lama kemudian…
“ Kreeekk!!”
Pak Yai keluar dengan sebungkus plastik dan bertepuk tangan tiga kali. Tak ada orang lain. Terpaksa aku yang maju mengambilnya. Belum selesai Pak Yai menutup pintu ndalem-nya dan belum genap aku berjalan menuju ke serambi masjid, ketiga orang tadi menghampiriku.
“ Ayo buka!!”
“ Lho.. kalian ‘kan sudah dapat bagian. “
“ Bagian apa?, wong malunya aja gak ketulungan “
“ Kalau malu, ya .. sudah, tidur sana. Aku mau makan ini. Jangan diganggu!!”
“ Kita ‘kan teman “ Kang Kamid merayu.
Ah.. ternyata hatiku pun luluh. Kami berempat makan bersama. Rasa persaudaraanku belum punah.
* * *

Aku tak habis pikir, pagi-pagi aku melihat ketiga kawanku tadi berkali-kali antre di kamar belakang. Kasihan. Dan yang tak habis pikir lagi adalah sore itu Kang Kodir dan Kang Ndalem membawa seember besar yang penuh dengan buah jambu. Dan yang paling tak habis pikir lagi ketika dari kerumunan santri-santri yang sedang berebut buah jambu itu tiga orang tadi menghampiriku dengan tiga buah plastik jambu
“ Ayo dimakan!!”


VII, SIRBIN , 050205
[1] Tempat tinggal pengasuh pesantren ( pak Kyai )
[2] Untuk dinikmati bersama-sama dan bergiliran
[3] Rajin
[4] Menanak nasi
[5] Membaca secara berulang-ulang, biasanya dengan maksud untuk dihafalkan
[6] Membacakan hasil hafalan pelajaran tertentu di depan seorang penyimak ( ustadz )
[7] Kitab kecil yang berisi kumpulan syiir atau nadzam untuk dihafalkan

Comments

Popular posts from this blog

Perbedaan Mukallaf dan Baligh dalam Fikih Islam

Terdapat dua istilah yang seringkali disebut tatkala membincang subjek hukum dalam fikih, yakni mukalaf dan baligh. Kedua istilah ini seringkali dianggap memiliki satu makna yang sama dan bisa saling substitusi. Terkadang seseorang menyebut mukalaf padahal yang dimaksud adalah balig. Ada pula orang lain yang menyebut kata baligh, padahal yang ia maksud adalah mukallaf. Hal yang cukup menggembirakan adalah, pengetahuan masyarakat tentang baligh sudah cukup baik. Warga di kampung kami, misalnya, umumnya memahami baligh sebagai orang yang sudah dewasa. Pengertian ini tidak salah dan sudah mendekati kebenaran. Dalam pandangan fikih, secara tegas baligh adalah kondisi di mana seseorang sudah mencapai usia dewasa secara biologis. Titik tekan dalam fikih ini adalah kedewasaan secara biologis yang lazimnya ditandai dengan berfungsinya organ reproduksi secara sempurna. Kesempurnaan ini bisa dilihat dari beberapa tanda fisik dan psikis. Bagi perempuan, ovarium sudah bisa memproduksi sel tel...

Doa Memulai Pengajian Al-Quran, Ilahana Yassir Lana

Berikut ini adalah doa yang biasa dibaca sebelum memulai mengaji al-Quran.  Ilaahana yassir lanaa umuuronaaa 2 x Min diininaaa wa dun-yaanaaa 2 x Yaa fattaahu yaa aliim 2 x Iftah quluubanaa 'alaa tilaawatil qur'aan 2 x Waftah quluubanaa alaa ta'allumil 'uluum 2x

Scopus Submission and Review Process in FUAH UIN KHAS Jember

  Awal November lalu saya diundang Fakultas Ushuludin, Adab, dan Humaniora UIN KHAS Jember.  Ini adalah kali kedua saya silaturahmi ke UIN Jember. Di tahun 2018 lalu, saya pernah nyaris 10 hari menginap di IAIN Jember. Waktu itu mendampingi adik-adik ikut lomba sidang semu di Fakultas Syariah. Kali ini bukan untuk sidang semu, tapi untuk sharing tentang bagaimana submit artikel di jurnal terindeks Scopus. Tema yang sedang in dalam beberapa tahun terakhir. Scopus memang menjadi magnet tersendiri. Saya diundang oleh Koordinator pengelola jurnal di Fakultas Ushuludin, Mas Fathoni. Ia kawan baik sejak zaman mahasiswa, saat sama-sama aktif di pers mahasiswa. Saya di LPM Justisia IAIN Walisongo. Fathoni di LPM Poros UAD Yogyakarta. Dan kita aktif di PPMI (Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia). * * *  Oke, kembali ke soal FGD. Di forum ini ada dua hal penting yang saya bahas.  Pertama, bagaimana cara memilih jurnal bereputasi yang pas untuk artikel kita.  Kedua, bagaim...

Wadya Bala Justisia

Dari kiri, Zaki Mubarak, Nasrudin, Kholidul Adib Ach, Wiwit R. F, dan Anas Nouval. Lokasi Wisma Wijaya Kusuma Kopeng Salatiga

Merumuskan Kemaslahatan Bersama di Muhima HESy

Sore tadi beberapa mahasiswa menemui saya. Mereka panitia Musyawarah Himpunan Mahasiswa (MUHIMA) Hukum Ekonomi Syariah, yang diketuai oleh Galang. Beberapa mahasiswa ini mengabarkan bahwa esok pagi, Selasa 1 Februari 2022 pukul 08.00 akan diadakan Musyawarah Himpunan Mahasiswa HESy di kampus 2. Acara ini adalah acara besar, musyawarah yang melibatkan seluruh mahasiswa aktif jurusan Hukum Ekonomi Islam, dari angkatan tertua 2015 sampai angkatan termuda 2021. Semua diundang untuk berkontribusi dalam rapat akbar tahunan ini. Muhima adalah forum bersama di mana semua keluarga besar mahasiswa hukum ekonomi syariah duduk bersama, dalam status yang sama dengan hak yang sama, tanpa kecuali. Semua bisa berkontribusi untuk kemaslahatan bersama, berpendapat, bersuara, dan memilih serta dipilih. Di forum ini, dilakukan evaluasi atas roda organisasi HMJ selama setahun terakhir. Hal-hal baik yang sudah dilakukan bisa dikembangkan di masa depan. Hal-hal negatif, seperti vakumnya kepengurusan, bisa di...

Catatan Kecil tentang MA Tajul Ulum Brabo Grobogan

Sebagai seorang anak yang lahir dan besar di pedalaman Lampung, bisa mengenyam pendidikan di Jawa adalah sebuah impian yang tidak mudah untuk diwujudkan. Impian ini diam-diam tumbuh dalam benak sejak saya duduk di kelas 5 SD, sekira tahun 1997. Saat itu saya diajak paman untuk ikut program Ziarah Walisongo, dari Banten hingga Madura. Saat singgah di Kudus, hati saya langsung tertambat dengan suasana santri dan pelajar yang memenuhi gang di sekitar Menara Kudus selepas Subuh. Saat itulah saya berazam untuk mondok di Jawa, tepatnya di Kudus. Sayangnya, orangtua masih berat untuk melepas putra sulungnya dalam usia yang sehijau itu. Saya harus menunggu sampai nyaris lima tahun kemudian, yakni pada tahun 2001 seusai menamatkan studi di MTs. Berdasar saran dari Guru, pilihan kemudian jatuh bukan di Kudus, tetapi di Brabo. Pilihan yang membuat saya agak kurang bersemangat pada mulanya. Tetapi karena memang azam saya ingin nyantri di Jawa, ya bismillah nawaitu saja. Begitu sampai ke Pasar G...

Membaca Struktur Nalar Lirik Lagu Gigi

“Beribadah yok… Jangan banyak alasan” “Ayo sholat yok... sebelum disholatkan” Suara Arman Maulana, vokalis Band Gigi menyentak di sela-sela jendela kamarku. Suara itu hadir dari radio yang dinyalakan di kamar sebelah. Terpaksa, saya juga turut mendengarkan lagu itu. Saya pikir, boleh juga Gigi menghadirkan pesan-pesan agama lewat media musik, dengan caranya sendiri, khas Band Gigi. Dan sebagai salah satu bentuk ekspresi. Semua itu adalah hal yang sangat wajar dan lazim apa adanya. Saya kemudian terdiam. Kok kelihatannya ada yang mengganjal dari lirik lagu tersebut. Secara samar-samar, saya melihat bahwa ada semacam pembelengguan atas terminologi ibadah dalam lirik tersebut. Hmm.... begitukah?.... Mari kita perhatikan lebih lanjut. Dalam penggalan lirik tersebut, ada kesan yang samar-samar tampak. Di situ ada dua terminologi agama yang digunakan: ibadah dan sholat. Kedua kata itu, kemudian membentuk sebuah jalinan. Pastinya, jalinan itu tidak bersifat substitutif secara utuh. Karena sh...