Skip to main content

PESTA Tahun Baru Hijriyah 1427 H

Alhamdulilah aku berkesempatan untuk pulang ke rumah di Lampung walau tak lama sih, cuman empat belas hari. Tapi setidaknya aku bias merasakan kebahagiaan dengan melepas kangen dnegan adik-adikku yang ngegemesin.

Adalah hal yang sudah wajar dan biasa jika kita memperingati pergantian tahun pada penanggalan Hijriyah. Dari sini, kita kemudian diingatkan bagaimana peerjuangan Nabi dulu yang lari dari kejaran para pemuka Quraysh yang tidak suka dengan agenda yang dijalankan Muhammad.

Sekali lagi wajar memang karena Muhammad mengajarkan persamaan dan keadilan, suatu nilai yang sangat diangungkan dan masih belum pernah terwujud dalam kehidupan Makkah yang begitu kapitalis. Di makah yang berkuasa adalah para bangsawan dan saudagar yang sangat berpengaruh.

Kondisi ini, di satu sisi menimbulkan gap yang cukup menganga dan kentara pada masa itu. Karenanya, islam datang untuk menyelamatkan dan mengangkat kaum yang termarjinalkan ke permukaan. Karena bagi islam, inna akromakum indallahi atqookum. Yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa. Allah la yanzuru ila shuwarikim wa la ila ajsaadikum. Tuhan tidak memandang seseorang karena tampangnya, jasadnya.

Akan tetapi, hal ini menjadi ancaman bagi Status Quo yang ada di Makkah. Akibatnya, perlakuan yang tak mengenakkan berulang kali harus ditanggung oleh Muhammad dan sahabatnya. Dan hijrah menjadi pilihan selanjutnya yang paling logis. Hijrah ini memiliki arti politik yang cukup kuat. Terbukti Nabi ketika sampai di Madinah diangkat sebagai pemimpin masyarakat yang sedang bertikai.

Dan ketika kita melihat sejarah yang sedemikian itu, maka upaya ‘MEMPERINGATI” tahun baru hijriyah adalah hal yang tak terelakkan.

Sayangnya, tampaknya kita telah terjebak pada romantisme. Ini bisa terlihat pada kenyataan yang ada pada saat ini di mana tahun baru ini DIRAYAKAN dengan begitu mewah. Di tepi sungai Musi Palembang, pesta kembang Api begitu hebat dan meriah. Kontras dengan tahun baru 2006. Dan jika kita mengingat saudara-saudara yang teraniaya dan menderita karena bencana mengapa kita hanya berpesta pora dengan mengatasnamakan ritual keagamaan. Sungguh tindakan yang tidak terpuji.

Jika demikian, agama tak lebih dari sekedar sapi perah yang diambil habis-habisan susunya demi memenuhi kebutuhan perut-perut yang selalu kelaparan dan kehausan akan harta dan kekuasaan serta kebahagiaan sesaat di dunia ini. Naudubillah

Comments

Popular posts from this blog

Perbedaan Mukallaf dan Baligh dalam Fikih Islam

Terdapat dua istilah yang seringkali disebut tatkala membincang subjek hukum dalam fikih, yakni mukalaf dan baligh. Kedua istilah ini seringkali dianggap memiliki satu makna yang sama dan bisa saling substitusi. Terkadang seseorang menyebut mukalaf padahal yang dimaksud adalah balig. Ada pula orang lain yang menyebut kata baligh, padahal yang ia maksud adalah mukallaf. Hal yang cukup menggembirakan adalah, pengetahuan masyarakat tentang baligh sudah cukup baik. Warga di kampung kami, misalnya, umumnya memahami baligh sebagai orang yang sudah dewasa. Pengertian ini tidak salah dan sudah mendekati kebenaran. Dalam pandangan fikih, secara tegas baligh adalah kondisi di mana seseorang sudah mencapai usia dewasa secara biologis. Titik tekan dalam fikih ini adalah kedewasaan secara biologis yang lazimnya ditandai dengan berfungsinya organ reproduksi secara sempurna. Kesempurnaan ini bisa dilihat dari beberapa tanda fisik dan psikis. Bagi perempuan, ovarium sudah bisa memproduksi sel tel...

Sifat Maha Mengetahui bagi Allah swt

Salah satu sifat wajib bagi Allah swt adalah maha mengetahui ( al-ilm ). Sifat ini bermakna bahwa pengetahuain Allah swt meliputi segala sesuatu tanpa kecuali dan tanpa batas. Tak ada satu hal pun yang luput dari pengetahuan dan penemuan Allah swt. Dalam satu riwayat dinyatakan bahwa Allah swt mengetahui setiap desir udara, setiap daun yang gugur, bahkan seekor semut hitam kecil di atas batu hitam di tengah gurun di tengah gulita malam. Sifat maha mengetahui ini termasuk satu dari dua puluh sifat wajib bagi Allah swt. Pengertian wajib di sini bukan berarti bahwa Allah swt harus bersifat maha mengetahui dan jika tidak maha mengetahui kemudian Allah swt berdosa. Tidak demikian. Wajib di sini tidak dalam kerangka hukum syar’iy melainkan berada dalam koridor hukum aqly . Artinya, wajib di sini dikonstruk dalam pengertian rasio bahwa tidak logis jika Allah tidak maha mengetahui atas segala sesuatu. Karena jika tak maha mengetahui tak mungkin Ia bersifat maha berkehendak, maha ...

SOLUSI HUKUM ISLAM (MAKHARIJ FIQHIYYAH) SEBAGAI PENDORONG ARUS BARU EKONOMI SYARIAH DI INDONESIA

SOLUSI HUKUM ISLAM (MAKHARIJ FIQHIYYAH) SEBAGAI PENDORONG ARUS BARU EKONOMI SYARIAH DI INDONESIA (Kontribusi Fatwa DSN-MUI dalam Peraturan Perundang-undangan RI) ORASI ILMIAH Disampaikan dalam Pengukuhan Guru Besar Bidang Ilmu Ekonomi Muamalat Syariah Prof. Dr. (H.C.) K.H. Ma’ruf Amin di UIN Maliki Malang Disadari atau tidak, ekonomi syariah merupakan sektor yang sangat potensial sebagai variabel menciptakan kesejahteraan di Indonesia dan mempunyai efek berantai yang sangat positif bagi bergeraknya sektor lainnya. Indonesia merupakan pasar potensial bagi tumbuh kembangnya ekonomi syariah. Saat ini kondisi perekonomian Indonesia dinilai bagus. Gross Domestic Product (GDP) Indonesia diproyeksikan masuk lima besar dunia dalam beberapa tahun ke depan. Sumber Daya Alam di Indonesia masihsangat potensial untuk terus dikembangkan. Penduduk Indonesia yang berjumlah lebih dari 220 juta, sekitar 87 persennya memeluk agama Islam. Kelas menengah muslim mengalami p...

Kuliah Agama 11, Kesehatan Reproduksi Keluarga menurut Agama

via IFTTT

Kuliah Agama 10 Mengelola Konflik Keluarga

via IFTTT

Kuliah Agama Keluarga Menurut Agama

via IFTTT