Skip to main content
Inner Power Manusia-Manusia[1]

M. NasrudinF

Percayakah anda, bahwa manusia adalah makhluk yang sangat lemah? Jika tidak, cobalah sekali-kali melihat tayangan Discovery, atau Wild Animal, atau membaca majalah National Geographic dan bila perlu, kunjungi situsnya.

Perhatikan beberapa hewan yang ada. Ular Derrick misalnya, di padang gurun Nevada bisa langsung melata dan mencari makan sendiri setelah ia keluar dari cangkang telur yang selama ini telah mengekangnya.

Sekarang, pertanyaannya adalah: apa yang bisa dilakukan oleh bayi manusia selain menangis? Tapi sadarkah anda, bahwa sebetulnya Tuhan telah menetapkan kekuatan luar biasa pada bayi tersebut? Sadarkah kita, bahwa pada hakekatnya, bayi adalah manusia yang paling kuat dan paling berkuasa di muka bumi ini?

Bagaimana bisa? Perhatikan! Ketika bayi menangis, semua orang pasti akan memperhatikannya. Seorang penguasa yang paling kuat sekalipun akan terketuk pintu hatinya manakala ia mendengar suara tangisan bayi, apalagi tangisan itu berasal dari bayi yang sangat ia rindukan sebagai penerus (nasab dan kekuasaan)nya.

Dan lihatlah, betapa orang suka dengan bayi itu, meski ia buang air di pangkuan atau di gendongan orang lain, orang yang terakhir ini tak akan pernah marah. Ia hanya menanggapinya dengan tawa dan senyum. Lantas, apa jadinya jika yang buang air di pangkuan orang lain itu anda? Wah bisa berabe, men!!

Sekarang, apa yang terjadi dengan bayi itu manakala ia hidup sendiri, tak ada seorang pun yang hadir di dekatnya? Seberapa berartikah ia? Seberapa kuatkah ia? Jelas. Ia tak bisa melakukan apa pun. Ia menjadi sedemikian lemah dan rapuh, bahkan untuk sekedar buang air atau ngomong "HELP ME!!" sekalipun. Dan tahukah anda, bahwa ini adalah bukti yang cukup jelas bahwa manusia sejak lahir sudah diberi naluri, insting untuk hidup berkelompok, berkoloni bersama yang lainnya.

Imam Turmudzi meriwayatkan sebuah hadits melalui jalur sahabat Abdullah Ibn Umar RA. Dalam hadits ini, dinyatakan bahwa manusia tak boleh sendiri dalam menentukan nasibnya. Harus dalam jamaah. Untuk itu, Tuhan memberikan jaminan melalui hadits ini.
Rasul bersabda “Sungguh! umatku (dalam sebuah redaksi menggunakan kata umat Muhammad) tak akan berkumpul dalam kesesatan. “Tangan” Allah swt beserta Jamaah. Barang siapa yang memisahkan diri dari jamaah maka ia menjerumuskan dirinya ke dalam neraka.”

Kendati ‘hanya’ diriwayatkan oleh Imam Turmudzi RA dalam bab “Maa ja a fi luzumi jamaah” (hadits tentang kewajiban bersama jamaah) Hadits ini dinilai shahih marfu’, sampai kepada Nabi.

Dalam hadits ini disebutkan“Tangan” Allah swt beserta Jamaah. Kata 'tangan' ini sebagai sebuah teks ada banyak pemaknaan. Ada yang menilai bahwa kata 'yad' (tangan) dalam bahasa Arab sering kali digunakan untuk menunjuk kepada makna 'kekuasaan' seperti dalam yaduLlah fawqa aidiihim (tangan Tuhan di atas tangan-tangan mereka).

Tetapi, ada pula yang memahami bahwa yad di atas dimaknai sebagai tangan dalam arti yang sesungguhnya. Tuhan itu punya tangan, hanya saja, karena sifat-Nya yang mukholafatuhu lil hawaditsi (tidak sama dengan makhluk yang baru 'ada'), maka tangan Tuhan tidak sama dengan tangan semua makhluknya. Barang kali bisa dalam bentuk kekuasaan atau mungkin yang lainnya.

Yang jelas, dari hadits ini, ada jaminan yang tegas dan jelas bahwa jamaah (kerja sama) akan membawa manusia kepada kemaslahatan. Tentunya, jika memang orang-orang yang ada di dalamnya bisa diandalkan untuk tetap menjaga kriteria sebagai umat Muhammad saw.
Barang siapa yang memisahkan diri dari jamaah maka ia menjerumuskan dirinya ke dalam neraka.” Kiranya penggalan hadits ini selaras dengan hadits lain yang menyatakan bahwa al jamaatu rohmat wal furqatu azab, jamaah adalah rahmat, dan perpecahan adalah bencana.

Betapa banyak orang yang terjerumus dalam kehancuran lantaran di dalamnya ada banyak perpecahan. Bayangkanlah dalam sebuah biduk (perahu kecil) ada dua nahkoda. Apa yang akan terjadi? Sampaikah perahu itu ke tujuannya? Dan apa jadinya jika semua penumpang biduk itu menjadi nahkoda? Anda bisa menjawabnya!.

Abu Isa sebagaimana dikutip Imam Turmudhi dalam Sunan Turmudzi —rowi hadits di atas — menulis bahwa yang dimaksud dengan jamaah di sini adalah ahli fiqh (yurisprudensi Islam), ahli ilmu, dan ahli hadits.

Tampaknya, Abu Isa memandang dan menafsirkan hadits ini dari aspek hukum, khususnya legal-formal. Karenanya, ia memasukkan ahli fiqh dan ahli hadits. Selanjutrnya, di sini penulis ingin menilik hadits ini dari sisi yang (sedikit agak) lain. Abu Isa juga menyebutkan salah satu yang bisa dimasukkan ke dalam kriteria Jamaah —yang dimaksud dalam hadits tersebut— adalah ahli ilmu.

OK. Kita garis bawahi kata ahli ilmu. Kata ini, menjadi sangat menarik untuk dikaji lebih lanjut. Adakah ahli ilmu di dunia ini? Dan siapakah ahli ilmu itu? Apakah Einstein yang menemukan hukum relativitas? Ataukah Jabir bn Hayyan si penemu aljabar? Atau barang kali Charles Darwin dengan teori evolusinya? Atau jangha-jangan, justru kita sekarang yang duduk sembari ngantuk dan malu-malu plus ingah-ingih di majelis ini merupakan ahli ilmu? Mari kita diskusikan!

Dan bagaimana kaitan antara ahli ilmu dengan jamaah? Lantas, apakah jamaah itu akan bisa membantu dalam memperoleh ilmu atau justru sebaliknya? Kalau memang membantu, sejauh mana peran Jamaah dalam menuntun kita untuk mendapatkan ilmu? Mari kita tuntaskan dalam forum ini!

Hanya saja, harus dibedakan antara ilmu dan pengetahuan. Bahwa pengetahuan itu berasal dari 'tahu' yang sumbernya adalah panca indera. Sedangkan ilmu lebih kompleks dari itu. Ia merupakan kumpulan pengetahuan yang diramu secara ilmiah dan komprehensif. Karenanya bisa berlaku secara universal dan umum. Inilah ilmu pengetahuan induktif-empiris.

Matur nuwun dan selamat ber-surfing ria dalam luasnya pengetahuan.

[1] Ma kutiba (bukan Ma Qaala) disampaikan pada diskusi kumpul-kumpul alTaysir (Alumni Tajul Ulum in Sirajuth Thalibin) Semarang (IAIN-IKIP PGRI-UNDIP-UNNES) di Masjid Kampus 3 IAIN Semarang Sabtu, 18 Maret 2006

F Manusia seperti temen-temem sekarang dan (masih) hidup. Lagi nyantri di jurusan Perdata Islam Fakultas Hukum Islam IAIN Semarang. Doakan cepat wisuda, he he

Comments

Popular posts from this blog

Perbedaan Mukallaf dan Baligh dalam Fikih Islam

Terdapat dua istilah yang seringkali disebut tatkala membincang subjek hukum dalam fikih, yakni mukalaf dan baligh. Kedua istilah ini seringkali dianggap memiliki satu makna yang sama dan bisa saling substitusi. Terkadang seseorang menyebut mukalaf padahal yang dimaksud adalah balig. Ada pula orang lain yang menyebut kata baligh, padahal yang ia maksud adalah mukallaf. Hal yang cukup menggembirakan adalah, pengetahuan masyarakat tentang baligh sudah cukup baik. Warga di kampung kami, misalnya, umumnya memahami baligh sebagai orang yang sudah dewasa. Pengertian ini tidak salah dan sudah mendekati kebenaran. Dalam pandangan fikih, secara tegas baligh adalah kondisi di mana seseorang sudah mencapai usia dewasa secara biologis. Titik tekan dalam fikih ini adalah kedewasaan secara biologis yang lazimnya ditandai dengan berfungsinya organ reproduksi secara sempurna. Kesempurnaan ini bisa dilihat dari beberapa tanda fisik dan psikis. Bagi perempuan, ovarium sudah bisa memproduksi sel tel...

Niat dalam Puasa Ramadhan

Bayangkanlah sebuah payung. Benda ini memiliki satu buah tiang penyangga dan satu bidang atap yang bertumpu di atas tiang tersebut. Tiang tersebut menjadi penopang tegaknya payung.  Demikian halnya puasa. Ia juga memiliki tiang penopang. Jika tiang itu patah, maka robohlah bangunan puasa. Dengan kata lain, puasanya tidak sah. Itu artinya, selepas Ramadhan usai, ia berkewajiban menggantinya di hari yang lain. Tiang ini dalam bahasa Arab disebut rukun . Jika payung memiliki hanya satu tiang, maka puasa memiliki empat tiang atau rukun. Keempat rukun tersebut adalah (i) niat; (ii) menahan diri dari segala yang membatalkan; (iii) orang yang berpuasa; dan (iv) hari-hari yang diperbolehkan untuk berpuasa.  Terhadap dua rukun yang pertama, para ulama sepakat bahwa keduanya merupakan rukun puasa. Sementara terhadap poin ketiga, ada ulama yang menyebutnya include dalam seluruh bangunan puasa sehingga tidak bisa disebut sebagai rukun. Adapun poin keempat, ada ulama yang...

Scopus Submission and Review Process in FUAH UIN KHAS Jember

  Awal November lalu saya diundang Fakultas Ushuludin, Adab, dan Humaniora UIN KHAS Jember.  Ini adalah kali kedua saya silaturahmi ke UIN Jember. Di tahun 2018 lalu, saya pernah nyaris 10 hari menginap di IAIN Jember. Waktu itu mendampingi adik-adik ikut lomba sidang semu di Fakultas Syariah. Kali ini bukan untuk sidang semu, tapi untuk sharing tentang bagaimana submit artikel di jurnal terindeks Scopus. Tema yang sedang in dalam beberapa tahun terakhir. Scopus memang menjadi magnet tersendiri. Saya diundang oleh Koordinator pengelola jurnal di Fakultas Ushuludin, Mas Fathoni. Ia kawan baik sejak zaman mahasiswa, saat sama-sama aktif di pers mahasiswa. Saya di LPM Justisia IAIN Walisongo. Fathoni di LPM Poros UAD Yogyakarta. Dan kita aktif di PPMI (Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia). * * *  Oke, kembali ke soal FGD. Di forum ini ada dua hal penting yang saya bahas.  Pertama, bagaimana cara memilih jurnal bereputasi yang pas untuk artikel kita.  Kedua, bagaim...

Merancang Riset dan Pengembangan Hukum Ekonomi Syariah

  Kali ini saya berkolaborasi dengan Mas Suaidi dari UIN Madura, ini sudah ke berapa kali. Kalau yang sudah publish ketiga kali. Konsep artikel ini kita diskusikan berdua. Mulanya, Suaidi mengkonsep tentang fondasi filosofis untuk riset-riset dalam bidang hukum ekonomi syariah.  Nah, setelah dibaca-baca dan kita diskusikan, ternyata kosep ini bisa dikembangkan lebih lanjut. Bagaimana pengembangannya? Dalam bidang hukum ekonomi syariah, selain riset, yang tak kalah penting adalah pengembangan atau development.  Jadi, artikel ini saya kembangkan menjadi metodologi riset dan pengembangan (RnD).  Karena hari ini, riset saja tidak cukup. Ia harus memberikan dampak. Ya mau tak mau, akhirnya development ini saya masukkan.  Jadi seperti apa risetnya? Langsung saja baca naskahnya dan didiskusikan. https://e-journal.metrouniv.ac.id/muamalah/article/view/10201 

Apresiasi Keberhasilan Mediasi di PA Bantul

Ini tahun ketiga saya berkhidmah sebagai mediator non-hakim di Pengadilan Agama Bantul. Meskipun saya sudah memegang sertifikat mediator dari Asosiasi Pengacara Syariah (APSI) sejak 2021, saya belum pernah praktik di pengadilan. Hehe... Di akhir 2022, saya bertemu dengan Pak Agus, ketua Perkumpulan Ahli Mediator Syariah Indonesia dan diajak untuk praktik di PA Bantul, ya saya langsung mengiyakan.  Jadilah saya praktik di PA Bantul sejak awal 2023, di sela-sela melaksanakan tugas belajar di UIN Sunan Kalijaga. Alhamdulillah saya menikmati prosesnya dan luar biasa memang. Tahun 2024 saya mendaftar lagi sebagai mediator di PA Bantul. Dari 15 pendaftar, diadakan tes tertulis, yang lulus 7 orang. Alhamdulillah saya masuk. Tahun 2025 saya mendaftar lagi. Dari 9 orang yang mendaftar, setelah tes tertulis dan wawancara, dinyatakan lolos 4 orang. Alhamdulillah masuk lagi. Puluhan bahkan mungkin sudah ratusan perkara saya tangani sejak 2023 sampai akhir 2025 ini. Semuanya mengajarkan banyak ...

Sifat Maha Mengetahui bagi Allah swt

Salah satu sifat wajib bagi Allah swt adalah maha mengetahui ( al-ilm ). Sifat ini bermakna bahwa pengetahuain Allah swt meliputi segala sesuatu tanpa kecuali dan tanpa batas. Tak ada satu hal pun yang luput dari pengetahuan dan penemuan Allah swt. Dalam satu riwayat dinyatakan bahwa Allah swt mengetahui setiap desir udara, setiap daun yang gugur, bahkan seekor semut hitam kecil di atas batu hitam di tengah gurun di tengah gulita malam. Sifat maha mengetahui ini termasuk satu dari dua puluh sifat wajib bagi Allah swt. Pengertian wajib di sini bukan berarti bahwa Allah swt harus bersifat maha mengetahui dan jika tidak maha mengetahui kemudian Allah swt berdosa. Tidak demikian. Wajib di sini tidak dalam kerangka hukum syar’iy melainkan berada dalam koridor hukum aqly . Artinya, wajib di sini dikonstruk dalam pengertian rasio bahwa tidak logis jika Allah tidak maha mengetahui atas segala sesuatu. Karena jika tak maha mengetahui tak mungkin Ia bersifat maha berkehendak, maha ...

Mbah Syam dan Santrinya

Suatu hari di tahun 1970-an, seorang santri sedang bersih-bersih halaman pondok. Tiba-tiba Mbah Syam membuka jendela dan memanggilnya.  "Kang Yasir..." "Njih dalem..." Ia segera menuju jendela itu. Mbah Syam mengulurkan tangannya. "Iki ono titipan soko ibumu." Kang Yasir kaget. Kapan Ibu datang ke pondok? Mengapa ia tidak tahu? "Nganu... Aku wingi bar ko omahmu.", kata Mbah Syam. Kang Yasir tambah kaget. "Wingi aku bar ngeterke Baedlowi ke Surabaya. Mulihe mampir Ngawi, neng omahmu.", tambah Mbah Syam. "Oh... Pripun kabare Ibu?" "Alhamdulillah sehat kabeh. Kangmu yo sehat." "Alhamdulillah... Matur nuwun." "Yo... Podo-podo." *** Sehari sebelumnya di Ngawi. Mbah Syam menelusuri desa, mencari rumah Kang Yasir. Ia mengucapkan salam, tak ada jawaban. Ia menunggu sejenak.  Kemudian seorang Ibu agak sepuh keluar rumah dan menyapanya. "Sinten nggih?..." "Aku koncone Yasir. Omahku cedak nggo...