Skip to main content

Tugas Esai Kelas Fikih (7 April 2016)




Kelas A (submit 21 April 2016)
1. Perbedaan khutbah dalam salat ied dan salat istisqa.
2. Bolehkah salat istisqa dilaksanakan di dalam masjid?
3. Bolehkah salat khauf dilaksanakan dalam kondisi damai (bukan perang)?
4. Mengenakan cincin perak bagi laki-laki.
5. Hukum mengenakan sutera bagi laki-laki.
6. Mengapa perempuan boleh mengenakan sutera?
7. Tata cara pemakaman jenazah.
8. Perbedaan jenazah laki-laki dan perempuan dalam pensalatan.
9. Selamatan seratus hari dan seribu hari setelah kematian.
10. Menangisi dan meratapi jenazah.


Kelas B (Submit 14 April 2016)
1. Mengenakan sarung bercampur sutera bagi laki-laki.
2. Tata cara mengafani jenazah laki-laki.
3. Tata cara mengafani jenazah perempuan.
4. Bolehkah salat istisqa dilaksanakan pada malam hari?
5. Hukum dan bacaan talqin mayit.
6. Hukum kuburan massal.
7. Tata cara meletakkan jenazah di dalam liang lahat.
8. Batas dan ketentuan fardhu kifayah bagi perawatan jenazah.
9. Liang lahat dan lubang kuburan.
10. Prosesi melepas jenazah dari rumah menuju pemakaman.


Kelas C (Submit 14 April 2016)
1. Tata cara mengurus jenazah bayi keguguran. 
2. Tata cara memandikan jenazah.
3. Tata cara memasukkan jenazah ke dalam liang lahat.
4. Membangun kuburan (kijing) di pemakaman.
5. Tata cara dan etika bertakziah.
6. Tata cara mengurus jenazah yang mati syahid dunia, akhirat, dan dunia akhirat.
7. Ketentuan makmum masbuk dalam salat jenazah.
8. Kriteria mengubah niat yang bisa membatalkan salat.
9. Tradisi selamatan tujuh hari dan empat puluh hari setelah kematian seseorang.
10. Memakamkan jenazah bersama peti matinya.


Jika ada yang kurang jelas, segera hubungi dosen pengampu via SMS/WA/Telepon/email.

Comments

Popular posts from this blog

Perbedaan Mukallaf dan Baligh dalam Fikih Islam

Terdapat dua istilah yang seringkali disebut tatkala membincang subjek hukum dalam fikih, yakni mukalaf dan baligh. Kedua istilah ini seringkali dianggap memiliki satu makna yang sama dan bisa saling substitusi. Terkadang seseorang menyebut mukalaf padahal yang dimaksud adalah balig. Ada pula orang lain yang menyebut kata baligh, padahal yang ia maksud adalah mukallaf.

Hal yang cukup menggembirakan adalah, pengetahuan masyarakat tentang baligh sudah cukup baik. Warga di kampung kami, misalnya, umumnya memahami baligh sebagai orang yang sudah dewasa. Pengertian ini tidak salah dan sudah mendekati kebenaran. Dalam pandangan fikih, secara tegas baligh adalah kondisi di mana seseorang sudah mencapai usia dewasa secara biologis.

Titik tekan dalam fikih ini adalah kedewasaan secara biologis yang lazimnya ditandai dengan berfungsinya organ reproduksi secara sempurna. Kesempurnaan ini bisa dilihat dari beberapa tanda fisik dan psikis. Bagi perempuan, ovarium sudah bisa memproduksi sel telur da…

Doa Memulai Pengajian Al-Quran, Ilahana Yassir Lana

Berikut ini adalah doa yang biasa dibaca sebelum memulai mengaji al-Quran. 

Ilaahana yassir lanaa umuuronaaa 2 x
Min diininaaa wa dun-yaanaaa 2 x
Yaa fattaahu yaa aliim 2 x
Iftah quluubanaa 'alaa tilaawatil qur'aan 2 x
Waftah quluubanaa alaa ta'allumil 'uluum 2x

Ringkasan Hasil-hasil Muktamar NU ke-33 di Jombang

بسم الله الرحمن الرحيم
A. KOMISI BAHTSUL MASA`IL DINIYAH WAQI’IYYAH
1. Hukum mengingkari janji bagi pemimpin pemerintahan.Pertanyaan:
1) Bagaimana status hukum janji yang disampaikan oleh pemimpin pada saat pencalonan untuk menjadi pejabat publik, baik eksekutif, legislatif, maupun yudikatif?
2) Bagaimana hukum mengingkari janji-janji tersebut?
3) Bagaimana hukum tidak menaati pemimpin yang tidak menepati janji?
Jawaban:
1) Status janji yang disampaikan oleh calon pemimpin pemerintahan/pejabat publik, baik eksekutif, legislatif maupun yudikatif, dalam istilah Fiqh, ada yang masuk dalam kategori al-wa’du (memberikan harapan baik) dan ada yang masuk dalam kategori al-‘ahdu (memberi komitmen).
Adapun hukumnya diperinci sebagai berikut:
Apabila janji itu berkaitan dengan tugas jabatannya sebagai pemimpin rakyat, baik yang berkaitan dengan program maupun pengalokasian dana pemerintah, sedang ia menduga kuat bakal mampu merealisasikannya maka hukumnya mubah (boleh).
Sebaliknya, jika ia menduga kuat t…