Skip to main content

Alhamdulillah, Naskah Fikih Lulus Ujian....

Dalam proses penulisan buku Fikih For Teens, penulis memberikan kesempatan kepada beberapa siswa SMA di Kota Semarang untuk menguji dan mengkritisi calon naskah awal. Luar biasa! Sambutan mereka cukup antusias. “Buku ini gue banget”, kata Devi, siswa kelas XI SMA Walisongo. Lebih dari 4 kali, beberapa siswa SMA tersebut menanyakan kapan buku ini bisa sampai ke tangan mereka.

"Dalam buku ini, penulis menyampaikan materi agama dengan bahasa anak muda. Namun tetap santun”, kata Icha Zuhratun Nisa, Alumnus Perbankan Syariah IAIN Walisongo Semarang. Baginya, buku ini enjoy dan tidak merasa digurui. Terlebih, bagian Spesial buat Cewek. Bagi Icha, bagian ini memberi banyak pencerahan. Penulis memang melakukan observasi dengan mewawancarai belasan cewek dalam menyelesaikan bagian dari Bab Penting sebelum Ibadah ini.

Para pembaca, sebisa mungkin tidak terbebani dengan dalil-dalil, karena penulis sengaja tidak menjadikan dalil naqli (al-Qur’an dan Hadits) sebagai satu-satunya pedoman dalam berislam dan beriman. Penulis sengaja membuka buku dengan pembicaraan santai namun mengena. “Secara sadar dan logis, para pembaca merasa memasuki diri sendiri untuk menjadi muslim yang baik”, kata Rusmadi, S.Th.I, mahasiswa muslim program Pascasarjana Universitas Soegijapranata.

Meskipun pada bagian akhir atau pertengahan, penulis menyisipkan dalil-dalil naqli dari al-Qur’an maupun al-Hadits, tapi fungsinya hanyalah sebagai konfirmasi atas ibadah dan nilai-nilainya yang penulis kemukakan di muka. Menurut seorang siswa MA Salafiyah Kajen Kab. Pati, inilah yang menjadi daya tarik buku ini. Eva, seorang pegiat OSIS sekaligus siswa kelas XII berkomentar, “Segala sesuatu harus ada landasan dalil al-Qur’an dan Haditsnya”.

Sedang siswa-siswi MA Madarijul Huda Dukuh Seti, Kab. Pati menuturkan, selain ada dalil, harus ada rujukan yang jelas dari kitab-kitab kuning. “Wah, buku ini ternyata banyak mengambil dari kitab-kitab kuning”, ungkap Uswati, siswa kelas XI MA Madarijul Huda sesaat setelah membaca Bab Bacaan lebih Lanjut di akhir buku.

Beberapa orang tua yang penulis temui dan mintakan pendapatnya banyak berkomentar, “Kapan terbitnya? Saya butuh untuk hadiah ulang tahun anak saya.” Sementara itu, Dr. Imam Yahya, dosen IAIN Walisongo Semarang menuturkan, “Harus ada di antara mahasiswa Syari'ah IAIN yang menulis seperti ini.”

Badiatul Roziqin, penulis belasan buku keagamaan best seller menuturkan, “Naskahmu itu coba dilengkapi dengan naskah Arab, sekaligus transliterasinya.” Tujuannya, agar pembaca yang belum bisa membaca teks Arab bisa belajar dengan membaca translterasinya. Sedang pembaca yang berasal dari lingkungan pesantren juga akan akrab dengan teks Arab.

Dan sekarang, naskah itu sudah bisa Anda dinikmati...

Comments

Popular posts from this blog

Perbedaan Mukallaf dan Baligh dalam Fikih Islam

Terdapat dua istilah yang seringkali disebut tatkala membincang subjek hukum dalam fikih, yakni mukalaf dan baligh. Kedua istilah ini seringkali dianggap memiliki satu makna yang sama dan bisa saling substitusi. Terkadang seseorang menyebut mukalaf padahal yang dimaksud adalah balig. Ada pula orang lain yang menyebut kata baligh, padahal yang ia maksud adalah mukallaf. Hal yang cukup menggembirakan adalah, pengetahuan masyarakat tentang baligh sudah cukup baik. Warga di kampung kami, misalnya, umumnya memahami baligh sebagai orang yang sudah dewasa. Pengertian ini tidak salah dan sudah mendekati kebenaran. Dalam pandangan fikih, secara tegas baligh adalah kondisi di mana seseorang sudah mencapai usia dewasa secara biologis. Titik tekan dalam fikih ini adalah kedewasaan secara biologis yang lazimnya ditandai dengan berfungsinya organ reproduksi secara sempurna. Kesempurnaan ini bisa dilihat dari beberapa tanda fisik dan psikis. Bagi perempuan, ovarium sudah bisa memproduksi sel tel...

Mbah Syam dan Santrinya

Suatu hari di tahun 1970-an, seorang santri sedang bersih-bersih halaman pondok. Tiba-tiba Mbah Syam membuka jendela dan memanggilnya.  "Kang Yasir..." "Njih dalem..." Ia segera menuju jendela itu. Mbah Syam mengulurkan tangannya. "Iki ono titipan soko ibumu." Kang Yasir kaget. Kapan Ibu datang ke pondok? Mengapa ia tidak tahu? "Nganu... Aku wingi bar ko omahmu.", kata Mbah Syam. Kang Yasir tambah kaget. "Wingi aku bar ngeterke Baedlowi ke Surabaya. Mulihe mampir Ngawi, neng omahmu.", tambah Mbah Syam. "Oh... Pripun kabare Ibu?" "Alhamdulillah sehat kabeh. Kangmu yo sehat." "Alhamdulillah... Matur nuwun." "Yo... Podo-podo." *** Sehari sebelumnya di Ngawi. Mbah Syam menelusuri desa, mencari rumah Kang Yasir. Ia mengucapkan salam, tak ada jawaban. Ia menunggu sejenak.  Kemudian seorang Ibu agak sepuh keluar rumah dan menyapanya. "Sinten nggih?..." "Aku koncone Yasir. Omahku cedak nggo...

Doa Memulai Pengajian Al-Quran, Ilahana Yassir Lana

Berikut ini adalah doa yang biasa dibaca sebelum memulai mengaji al-Quran.  Ilaahana yassir lanaa umuuronaaa 2 x Min diininaaa wa dun-yaanaaa 2 x Yaa fattaahu yaa aliim 2 x Iftah quluubanaa 'alaa tilaawatil qur'aan 2 x Waftah quluubanaa alaa ta'allumil 'uluum 2x

Scopus Submission and Review Process in FUAH UIN KHAS Jember

  Awal November lalu saya diundang Fakultas Ushuludin, Adab, dan Humaniora UIN KHAS Jember.  Ini adalah kali kedua saya silaturahmi ke UIN Jember. Di tahun 2018 lalu, saya pernah nyaris 10 hari menginap di IAIN Jember. Waktu itu mendampingi adik-adik ikut lomba sidang semu di Fakultas Syariah. Kali ini bukan untuk sidang semu, tapi untuk sharing tentang bagaimana submit artikel di jurnal terindeks Scopus. Tema yang sedang in dalam beberapa tahun terakhir. Scopus memang menjadi magnet tersendiri. Saya diundang oleh Koordinator pengelola jurnal di Fakultas Ushuludin, Mas Fathoni. Ia kawan baik sejak zaman mahasiswa, saat sama-sama aktif di pers mahasiswa. Saya di LPM Justisia IAIN Walisongo. Fathoni di LPM Poros UAD Yogyakarta. Dan kita aktif di PPMI (Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia). * * *  Oke, kembali ke soal FGD. Di forum ini ada dua hal penting yang saya bahas.  Pertama, bagaimana cara memilih jurnal bereputasi yang pas untuk artikel kita.  Kedua, bagaim...

rame-rame

Ini foto nasrudin yang lagi diskusi dengan Romo Aloys Budi Purnomo, Pendeta di Gereja Katedral Semarang. Foto diambil oleh Arif Mustofifin (makasih ya, Mas), PU LPM Justisia. Laporan diskusi ini diturunkan dalam Jurnal Justisia edisi 29 tentang Sekularisme. Diskusi ini menyoroti sekularisme dalam pandangan gereja. Kaitannya dengan kelahiran sekualirsme yang muncul di Barat sebagai respon atas begitu kuatnya pengaruh gereja di dalam kehidupan, termasuk urusan politik.

Gaul Iya, Paham Islam Juga

"Ma...ma...af, sa...ya...nggak tahu, Pak" Jawaban grogi seperti itulah barangkali yang kamu berikan kala ditanya gurumu: Apakah zakat itu? Gimana menyalurkannya? Mengapa kita musti beribadah? Apa sajakah ibadah itu? Dan seterusnya. Dan sebagainya. Ataukah dengan pedenya kamu tetep ngejawab atas ketidaktahuanmu? Janganlah yaw! Malu-maluin... Pertanyaannya kemudian, kenapa kita tidak tahu, padahal kita mengaku muslim sejati? Hayo... Kenapa? Mungkin, di antara kamu ada yang ngejawab, "Nggak ada waktu untuk belajar agama." Atau, "Mata pelajaran agama di sekolah ngebosenin, monoton, dan gurunya killer abis". Boleh jadi yang disampaikan di sekolah atau pengajian saat bicara agama pasti mengarah ke surga atau neraka. Iya, kalau kita punya tabungan banyak ibadah karena ngerti caranya, kita bisa pegang tiket ke surga. Lha kalau kita banyak dosa? Atau, kita tidak shalat misalnya dengan alasan aneh: karena tidak bisa. Apa tidak repot? Belum lagi jika belajar a...