Skip to main content

Ijtihad Fikih Poskolonial (2)


Medan bahasa
Pada penggalan tulisan bagian pertama, kita bisa membaca dengan jelas kutipan manuskrip Tabyin al-Islah, sebuah kitab yang ditulis Kyai Rifa'i Kalisalak. Ada empat terma yang penulis sengaja membubuhinya dengan garis bawah: alim fasik, penghulu, kefasikan, dan pe[me]rintahan. Keempat titik ini memainkan peran teramat penting dalam medan perang bahasa dan diskursus, waktu itu.

Ihwal ini, kita tiada bisa menceraikan dari hegemoni dan dominasi negara asing (baca: kolonial) atas Nusantara. Baik secara fisik dengan barisan tentara dan dentuman meriam serta senapan; pengetahuan dengan penguasaan wacana; politik dengan penaklukan raja-raja kecil; dan bahkan pengetahuan agama dengan hadirnya sistem Kapengulon besera seperangkat penghulu yang mengitarinya.

Kesemua itu menjadikan pola relasi kolonial dengan (pribumi) Nusantara menjadi benar-benar timpang, tak berimbang. Kolonial meminjam tangan para penguasa lokal, mulai dari Bupati dan ajudannya, hingga kepala desa untuk meredam gejolak rakyak kecil. Lalu dengan tenang mengeruk hasil bumi Nusantara. Dan penguasa lokal merasa perlu menggandeng para ulama, sebagai (ideological aparatus) untuk turut bermain pada wilayah ide.

Merekalah “ulama penguasa” atau “Alim Fasik”. Demikian Kyai Rifa'i menyebut penghulu yang menghambakan dirinya pada penguasa. Tiada yang menyangsikan, penghulu adalah seorang ‘alim, punya bekal pengetahuan agama yang cukup, bahkan di atas rerata masyarakat Nusantara. Merekalah elit agama di lingkungan naturalnya.

Dalam dunia politik, di mana penghulu berkecimpung (menghambakan diri), ia menjelma elite agama. Sedang di dunia ulama, ia menjelma elit politik. Suatu keistimewaan memang, yang justru menjadikan ia menjadi unik, tapi justru menjadi bahan cercaan bagi komunitas agamawan, tak terkecuali Kyai Rifa'i yang melihat kedekatan itu sebagai pelacuran agama demi segepok harta haram!

Bagi penghulu, kuasa agama menjadi bekal untuk menuntaskan hasratnya. Namun bagi Kyai Rifa'i, kuasa agama adalah bekal untuk melawan. Ia sadar, ia tak punya kuasa politik, tak punya kuasa ekonomi, tak ada kuasa fisik, dan pastinya tiada senjata. Tapi ia sadar betul, ia punya hati nurani dan kuasa pengetahuan. Posisinya sebagai elit agama di kalangan masyarakat awam membuatnya punya pengaruh untuk memainkan peran dalam melakukan perlawanan.

Di sini, ada garis demarkasi afiliasi: Kyai Rifa'i berpihak pada rakyat, dan penghulu berpihak kepada penguasa. Keberpihakan ini membawa konsekuensi berbeda. Di mata rakyat jelata, Kyai Rifa'i adalah pahlawan yang mampu membakar semangat rakyat untuk meneriakkan “Pergi!” kepada Kolonial. Sebaliknya, di mata penguasa kala itu, ia adalah segepok duri yang membahayakan dan karenanya patut disingkirkan.

Comments

Popular posts from this blog

Perbedaan Mukallaf dan Baligh dalam Fikih Islam

Terdapat dua istilah yang seringkali disebut tatkala membincang subjek hukum dalam fikih, yakni mukalaf dan baligh. Kedua istilah ini seringkali dianggap memiliki satu makna yang sama dan bisa saling substitusi. Terkadang seseorang menyebut mukalaf padahal yang dimaksud adalah balig. Ada pula orang lain yang menyebut kata baligh, padahal yang ia maksud adalah mukallaf. Hal yang cukup menggembirakan adalah, pengetahuan masyarakat tentang baligh sudah cukup baik. Warga di kampung kami, misalnya, umumnya memahami baligh sebagai orang yang sudah dewasa. Pengertian ini tidak salah dan sudah mendekati kebenaran. Dalam pandangan fikih, secara tegas baligh adalah kondisi di mana seseorang sudah mencapai usia dewasa secara biologis. Titik tekan dalam fikih ini adalah kedewasaan secara biologis yang lazimnya ditandai dengan berfungsinya organ reproduksi secara sempurna. Kesempurnaan ini bisa dilihat dari beberapa tanda fisik dan psikis. Bagi perempuan, ovarium sudah bisa memproduksi sel tel...

Mengapa Pipis Bayi Perempuan Harus Disiram dan Laki Cukup Diperciki?

Fikih Islam mengenal tiga klasifikasi najis berdasar tingkatan berat-ringannya. Yang paling berat adalah najis mughaladzah. Najis ini adalah seluruh bagian tubuh anjing dan babi beserta segala turunannya. Saking beratnya, cara mensucikan najis ini adalah dengan membasuhnya sampai hilang wujud, baru ditambah tujuh basuhan yang salah satunya dicampur dengan debu. Level yang paling ringan adalah najis mukhafafah . Najis ini hanya ada satu, yakni air seni bayi laki-laki yang belum berusia dua tahun dan hanya mengonsumsi ASI, tak pernah mengonsumsi makanan lain sebagai asupan gizi. Najis ini cukup diperciki dan seketika langsung menjadi suci. Di level tengah ada najis mutawasithah . Ini mencakup semua najis yang tidak masuk dalam klasifikasi ringan atau berat. Cara mensucikannya adalah dengan membasuh najis dengan air mengalir sampai bersih. Bagaimana dengan hukum air seni bayi perempuan? Dari penjelasan ringan di atas, hukum pipis bayi perempuan masuk ke dalam klasifikasi...

Doa Memulai Pengajian Al-Quran, Ilahana Yassir Lana

Berikut ini adalah doa yang biasa dibaca sebelum memulai mengaji al-Quran.  Ilaahana yassir lanaa umuuronaaa 2 x Min diininaaa wa dun-yaanaaa 2 x Yaa fattaahu yaa aliim 2 x Iftah quluubanaa 'alaa tilaawatil qur'aan 2 x Waftah quluubanaa alaa ta'allumil 'uluum 2x

rame-rame

Ini foto nasrudin yang lagi diskusi dengan Romo Aloys Budi Purnomo, Pendeta di Gereja Katedral Semarang. Foto diambil oleh Arif Mustofifin (makasih ya, Mas), PU LPM Justisia. Laporan diskusi ini diturunkan dalam Jurnal Justisia edisi 29 tentang Sekularisme. Diskusi ini menyoroti sekularisme dalam pandangan gereja. Kaitannya dengan kelahiran sekualirsme yang muncul di Barat sebagai respon atas begitu kuatnya pengaruh gereja di dalam kehidupan, termasuk urusan politik.

Anak vs Ayah

Seorang bocah kecil bertanya kepada ayahnya, “Apakah menjadi seorang ayah akan selalu mengetahui lebih banyak dari pada anaknya?” Ayahnya menjawab, “Sudah tentu!” “Siapa yang menemukan listrik?” “Edison.” “Kalau begitu mengapa bukan ayah Edison yang menemukan listrik?”

Sosiologi vs Antropologi: Titik Temu dan Titik Pisah

Sosiologi dan antropologi sama-sama mengkaji manusia sebagai makhluk hidup yang berkembang dinamis.  Yang membedakan adalah bahwa sosiologi lebih fokus pada relasi dan interaksi antar manusia.  Sedangkan antropologi lebih fokus pada manusia sebagai makhluk yang bernalar dengan akal budinya dan mengembangkan kecerdasannya untuk menyelesaikan problem-problem faktual yang dihadapinya.  Oleh karena berfokus pada relasi dan interaksi yang dinamis, maka sosiologi akan fokus pada pola-pola interaksi dengan karakter khususnya.  Nah, pola-pola inilah yang kemudian dicari kecenderungannya.  Kecenderungan-kecenderungan dan pola-pola ini akan di- generate menjadi teori-teori sosiologi. Teori ini bermanfaat untuk menjelaskan fenomena yang senada di tempat-tempat lain. Oleh karena itu, sosiologi cenderung melihat fenomena interaksi sebagai sebuah keajegan .  Jika ditemukan defiasi atau pola yang berbeda, maka akan di- generate menjadi teori baru. Sementara itu, antropolo...

Pengumuman Hadiah Buku Gratis untuk Pengisi Kuesioner Salat Gerhana dan Khutbah Jumat

Terima kasih kepada seluruh teman-teman yang sudah mengisi kuesioner. Mohon maaf saya terlambat mengumumkan pemenang kuesioner Salat Gerhana. Meskipun demikian, hadiah akan tetap saya kirim.  Seluruh pengisi kuesioner saya acak menggunakan aplikasi di random.org. Berikut adalah pemenangnya.  1. Kuesioner Salat Gerhana   2. Kuesioner Salat Jumat   Selamat kepada Dina Wahida dan Danu Aris Setiyanto. Keduanya akan saya hubungi untuk pengiriman bukunya. Nantikan kuesioner selanjutnya.