Skip to main content

Menguliti Tradisi Tasawuf (5-habis)


Interaksi Burhan, Bayan, dan Irfan[1] dalam Tasawuf

Semua varian Tasawuf sepakat bahwa al Quran dan al Hadits me­ru­pakan teks oto­ritatif yang utama. Dari sini, mereka me­laku­kan eks­plorasi men­dalam ter­hadap teks ter­sebut. Sufi Sunny mendekati dengan irfani. Sedang Sufi Falsafy men­de­katinya dengan burhany. Tegasnya, burhani dan irfani berebut untuk me­ng­­eksplorasi satu objek, bayani. Ketiga nalar ter­sebut (bayani, irfani, dan burhani) tidak bertentangan satu sama lain, karena masing-masing pu­nya pijakan normatif dan pi­jakan logis; juga tidak saling me­ngungguli, karena masing-masing punya kelebihan dan kelemahan. Namun, antara ke­­tiganya terjalin sebuah rajutan unik yang saling menyokong dan melengkapi, tidak saling menegasi­kan (tri­khotomis) untuk menuju al Haq.

Meski menge­depankan burhani, Tasa­wuf Falsafy tidak bisa me­ning­galkan irfany begitu saja, karena in­spirasi bisa datang dari mana saja. Demikan juga, Tasawuf Sunny mem­butuhkan burhany untuk memahami dan menjelaskan paham-pahamnya.

Saat sampai pa­da al Haq, ma­sing-masing peng­guna pola rajutan ter­sebut merasa­kan nilai kepuasan ber­beda. Sufi Sunny mendapatkan ke­puasan batin yang tak terperikan. Be­gitu pula kaum Falsafy. Namun, kaum Falsafy men­dapat­kan kepuasan inte­lek­tual yang tak di­dapat kaum Sunny, yang lebih terkonsentrasi pa­da moral etik. Se­lain itu, kebebasan berekspresi lebih diakui oleh Ta­sawuf Falsafy. Ti­dak heran, kita bisa dengan mu­dah menjumpai karya-karya sufi Falsafy dalam ben­­­tuk syair, puisi, atau prosa.[2] Te­ngok misalnya Ha­kim Nizami (w. 1222) yang terkenal dengan roman Layla-Maj­nun,[3] dan Khusraw dan Syirin.[4] Atau kitab Matsnawy (25.000 Syair), Diwan Syams at Tabrizy (40.000 Syair), Fihi Ma Fihi (Prosa), Maktubat, Majlis Sab’ah, dan Rubaiyyah karya Jalaludin Rumi (604/1207).[5] Demikian halnya al Hallaj dengan Kitab Tawasin (Kitab Kematian), dan Hamzah Fansuri dengan syair dan pantun Melayunya.

Karya-karya itu begitu indah dan menjadi inspirator banyak kalangan. Ini jelas berbeda dengan kaum Sufi Sunny yang karya-karyanya cukup kaku dan saklek. Al Ghazali dalam Bidâyah al Hidâyah misalnya, sangat menekankan ritual fisik (riyadhah); seperti bagaimana wudhu yang baik, apa yang dibaca saat membasuh rukun-rukun wudhu, bagaimana puasa yang baik, wirid apa yang harus dibaca saat-saat tertentu, dan seterusnya. Demikian halnya, meskipun tasawuf Sunny mengenal musyâhadah (perjumpaan dengan Tuhan) yang ter-cover dalam ma’rifat, fana’, dan baqa’, tetap saja kepuasan batin yang didapat bisa terreduksi dengan ketatnya batasan ber­ekspresi.

Terakhir, kaitannya dengan fiqh yang terkesan gersang, kiranya tasawuf bisa memberikan setetes embun segar. Tercatat, ada ulama Nusantara yang berhasil meramu tradisi mistik, fiqh, dan tauhid dengan apik, yakni  yakni Imam Nawawy al Bantani. Dalam setiap racikan kitabnya —tengok misalnya Durrar al Bahiyyah, Sullam at Tawfiiq, Sullam al Munâjah, dsb— selalu dimulai dengan tauhid, dilanjutkan dengan fiqh yang dibumbui tasawuf, filosofi tasyri’, dan disesuaikan dengan tipologi masyarakat Indonesia yang juga akrab dengan tradisi mistik. Tampaknya, inilah fiqh Indonesia yang ditunggu-tunggu. Allah a’lam.[j]


[1] Pemetaan ini dilakukan dengan baik oleh Abed al Jabiri, pemikir kontemporer asal Maroko dalam bukunya, Takwin al Aql Al Araby. Buku ini diterjemahkan menjadi Formasi Nalar Arab, (Jogjakarta: Ircisod, 2001).
[2] Lazimnya, mereka menolak menyebut apa yang dituliskannya sebagai Syair. Karena al Qur’an mencela para penyair sebagai orang yang suka memutar kata, identik dengan kebohongan, diikuti orang-orang sesat, dan tidak melakukan apa yang dikatakan (Q.S. Asy Syuara 224-226). Namun, dalam akhir surat itu, al Qur’an memuji penyair yang beriman, beramal shaleh, dan banyak menyebut Allah. Di tempat lain, al Qur’an juga membantah bahwa apa yang dikatakan Muhammad adalah syair, karena syair bagi Nabi hukumnya haram.
[3] Kisah cinta ini menjadi master price roman sastra Timur yang dalam versi Persia terdiri dari 4.500 syair berbentuk matsnawy, kelak ini disempurnakan Rumi. Konon, William Shakespeare terinspirasi oleh kisah ini untuk menuliskan kisah Romeo-Juliet seratus tahun kemudian. Secara umum, ia menggambarkan bagaimana cinta seseorang yang begitu tulus hingga tak ingin mendapatkan balasan apapun. Lihat Syaikh Nidzami, Laila Majnun, penterj. Sholih Gismar (Jogjakarta: Navilla, 2004).
[4] Kisah ini bertutur tentang romantika cinta Kisraw, putra mahkota kerajaan Persia pada Syirin, seorang putri kerajaan Armenia yang dipermainkan nasib. Seperti Layla-Majnun,  kisah ini berujung pada pada kematian tragis para pecinta. Baca ringkasan ceritanya dalam Mojdeh Bayat, Tales from the Land of the Sufis, terj. Para Sufi Agung, Kisah dan Legenda, penerj, Erna Novana, (Jogjakarta: Pustaka Sufi, 2003), hlm. 106-128.
[5] William C. Chittick, ibid., hlm. 9-10.

Comments

Popular posts from this blog

Perbedaan Mukallaf dan Baligh dalam Fikih Islam

Terdapat dua istilah yang seringkali disebut tatkala membincang subjek hukum dalam fikih, yakni mukalaf dan baligh. Kedua istilah ini seringkali dianggap memiliki satu makna yang sama dan bisa saling substitusi. Terkadang seseorang menyebut mukalaf padahal yang dimaksud adalah balig. Ada pula orang lain yang menyebut kata baligh, padahal yang ia maksud adalah mukallaf. Hal yang cukup menggembirakan adalah, pengetahuan masyarakat tentang baligh sudah cukup baik. Warga di kampung kami, misalnya, umumnya memahami baligh sebagai orang yang sudah dewasa. Pengertian ini tidak salah dan sudah mendekati kebenaran. Dalam pandangan fikih, secara tegas baligh adalah kondisi di mana seseorang sudah mencapai usia dewasa secara biologis. Titik tekan dalam fikih ini adalah kedewasaan secara biologis yang lazimnya ditandai dengan berfungsinya organ reproduksi secara sempurna. Kesempurnaan ini bisa dilihat dari beberapa tanda fisik dan psikis. Bagi perempuan, ovarium sudah bisa memproduksi sel tel...

Gaul Iya, Paham Islam Juga

"Ma...ma...af, sa...ya...nggak tahu, Pak" Jawaban grogi seperti itulah barangkali yang kamu berikan kala ditanya gurumu: Apakah zakat itu? Gimana menyalurkannya? Mengapa kita musti beribadah? Apa sajakah ibadah itu? Dan seterusnya. Dan sebagainya. Ataukah dengan pedenya kamu tetep ngejawab atas ketidaktahuanmu? Janganlah yaw! Malu-maluin... Pertanyaannya kemudian, kenapa kita tidak tahu, padahal kita mengaku muslim sejati? Hayo... Kenapa? Mungkin, di antara kamu ada yang ngejawab, "Nggak ada waktu untuk belajar agama." Atau, "Mata pelajaran agama di sekolah ngebosenin, monoton, dan gurunya killer abis". Boleh jadi yang disampaikan di sekolah atau pengajian saat bicara agama pasti mengarah ke surga atau neraka. Iya, kalau kita punya tabungan banyak ibadah karena ngerti caranya, kita bisa pegang tiket ke surga. Lha kalau kita banyak dosa? Atau, kita tidak shalat misalnya dengan alasan aneh: karena tidak bisa. Apa tidak repot? Belum lagi jika belajar a...

Belajar dari Isra' Miraj

PERCAYA atau ingkar. Hanya ada dua pilihan yang tersedia kala Muhammad SAW berniat mempublikasikan perjalanan jauhnya malam itu. Umm Hani" Hindun, puteri Abu Thalib melarang Muhammad SAW bercerita hal itu kepada siapa pun. Karena, perjalanan itu melampaui batas kecepatan roda transportasi abad ke-7 bahkan hingga kini. Banyak sahabat berpaling. Banyak pula yang bertahan. Abu Bakar sempat beroleh predikat ash-Shiddiq (yang percaya) lantaran percaya 100 persen dengan cerita Muhammad SAW. Bagi umat Islam, ini adalah ujian keimanan. Publik terbelah menjadi dua sisi diametral, berhadaphadapan. Quraysh Shihab dalam "Membumikan Alquran" menambahkan, cara paling aman menghadapi Isra Miraj adalah dengan mengimaninya begitu saja. Di tanah air, ada tradisi mempeingati Isra Miraj yang biasanya berwujud pengajian yang tahun ini bertepatan dengan 30 Juli. Peristiwa menggemparkan ini terjadi pada 27 Rajab, setahun sebelum Muhamad SAW hijrah ke Yatsrib. Pada masa ini, Muhamad SAW sedang ...

Mengapa Pipis Bayi Perempuan Harus Disiram dan Laki Cukup Diperciki?

Fikih Islam mengenal tiga klasifikasi najis berdasar tingkatan berat-ringannya. Yang paling berat adalah najis mughaladzah. Najis ini adalah seluruh bagian tubuh anjing dan babi beserta segala turunannya. Saking beratnya, cara mensucikan najis ini adalah dengan membasuhnya sampai hilang wujud, baru ditambah tujuh basuhan yang salah satunya dicampur dengan debu. Level yang paling ringan adalah najis mukhafafah . Najis ini hanya ada satu, yakni air seni bayi laki-laki yang belum berusia dua tahun dan hanya mengonsumsi ASI, tak pernah mengonsumsi makanan lain sebagai asupan gizi. Najis ini cukup diperciki dan seketika langsung menjadi suci. Di level tengah ada najis mutawasithah . Ini mencakup semua najis yang tidak masuk dalam klasifikasi ringan atau berat. Cara mensucikannya adalah dengan membasuh najis dengan air mengalir sampai bersih. Bagaimana dengan hukum air seni bayi perempuan? Dari penjelasan ringan di atas, hukum pipis bayi perempuan masuk ke dalam klasifikasi...

Aswaja: Dari Mazhab Menuju Manhaj

Aswaja: Sebuah Penelusuran Historis Aswaja (Ahlussunnah wal Jamaah) adalah satu di antara banyak aliran dan sekte yang bermuculan dalam tubuh Islam. Di antara semua aliran, kiranya aswajalah yang punya banyak pengikut, bahkan paling banyak di antara semua sekte. Hingga dapat dikatakan, Aswaja memegang peran sentral dalam perkembangan pemikiran keislaman. Aswaja tidak muncul dari ruang hampa. Ada banyak hal yang mempengaruhi proses kelahirannya dari rahim sejarah. Di antaranya yang cukup populer adalah tingginya suhu konstelasi politik yang terjadi pada masa pasca Nabi wafat. Kematian Utsman bin Affan, khalifah ke-3, menyulut berbagai reaksi. Utamanya, karena ia terbunuh, tidak dalam peperangan. Hal ini memantik semangat banyak kalangan untuk menuntut Imam Ali KW, pengganti Utsman untuk bertanggung jawab. Terlebih, sang pembunuh, yang ternyata masih berhubungan darah dengan Ali, tidak segera mendapat hukuman setimpal. Muawiyah bin Abu Sofyan, Aisyah, dan Abdulah bin Thalhah, serta Amr b...

Mars dan Hymne IAIN Metro

Mars IAIN Metro Jayalah IAIN Metro Tegap menuju masa depan Tak gentar bersaing tunjukkan kearifan Di bumi persada Kembangkan ajaran Islam Tekuni ilmu dan teknologi Peduli harmoni menjadi jati diri Cita-cita mandiri Marilah seluruh civitas akademika Membaca dan berkarya Menjadi generasi intelektual bangsa Berakhlak mulia Majulah IAIN Metro Majulah civitas akademika Membangun generasi bertakwa pada Ilahi Berkhidmat untuk negeri 2x Jayalah jayalah IAIN Metro ***** HYMNE IAIN Metro Di gerbang Sumatera Lampung tercinta IAIN Metro berada Tempat kami berjuang Tempat kami mengabdi Berbakti pada Ilahi Melangkah dengan Iman dan Taqwa Mengabdi pada bangsa dan negara Di bumi pertiwi kami berpijak Bernaung atas RidhoNYA Syukur dan harapan slalu kami panjatkan Untuk kejayaan Islam rahmat alam semesta Ilmu dan iman menjadi landasan Membangun generasi Indonesia Jaya

Merias wajah keberagamaan kita

YAKINKAH Anda, bahwa Anda adalah seorang pemeluk agama yang taat? Jika Anda menjawab ya, apakah Anda yakin, agama yang Anda peluk itu adalah satu-satunya yang benar dan bisa mengantarkan Anda kepada kebahagiaan di dunia dan kehidupan mendatang? Jika ya, bagaimana dengan agama lain? Dapatkah agama lain “melakukan” hal yang sama dengan agama yang Anda peluk? Atau, agama lain itu sesat? Jika ya, barang kali kita perlu menggeser sudut pandang atas fenomena keberagamaan kita. Dalam The Elementary Form of Religuous Live, Emile Durkheim menuliskan, dalam institusi agama, setidaknya ada tiga elemen yang tidak bisa dipisahkan: realitas supra, ritus, dan komunitas. Realitas supra merupakam tema sentral agama. Realitas ini diandaikan melampaui kemampuan kodrati manusia. Sehingga manusia merasa perlu untuk mendapatkan restunya, terhindar dari murkanya, di kehidupan dunia-akherat. Karenanya, manusia melaksanakan serangkaian ritual. (Harun Nasution, 1999:20). Sementara, komunitas dalam institusi ag...