15 February 2012

Hak Menghadirkan Kematian (1)


Hak Menghadirkan Kematian[1]
Kritik Pidana Mati dalam Filsafat Hukum Islam


Dalam semalam, Kejaksaan mengeksekusi tiga terpidana mati: Sumiasih, Sugeng (Surabaya), dan Tubagus Yusuf Maulana alias Usep (Banten) pada 20 Juli 2008 lalu. Nyawa mereka melayang di ujung senapan para algojo dari Brimob. Selanjutnya, Amrozi cs, para pelaku bom Bali  menyusul.

Kematian sejatinya tidak akan pernah terlepas dari fenomena kehidupan. Keduanya jalin-menjalin dalam sebuah harmoni yang teramat indah. Tapi, jemalin harmoni ini akan menjelma problem manakala tidak dipahami dan “diselesaikan” dengan baik, terutama berkait persoalan kehadiran kematian.

Senyatanya, kehadiran kematian sama misterinya dengan kehadiran kehidupan. Keduanya sama-sama menimbulkan implikasi unik. Kehidupan berimplikasi pada hadirnya hak dan kewajiban atas diri yang hidup dan lingkungan[2] yang dihadirinya. Pun, hak dan kewajiban yang-hadir secara vertikal kepada Yang Maha Hidup.

Sementara, kehadiran kematian yang tak lain merupakan hilangnya kehidupan berimplikasi pada lenyap dan hadirnya hak dan kewajiban, meski dalam bentuk berbeda, baik pada diri yang mati maupun pada mereka yang ditinggalkan. Ia yang dihadiri kematian, kehilangan kewajiban vertikal kepada Sang Khalik. Sedang kewajiban horizontal diambil alih ahli warisnya, seperti hutang-piutang.

Ini sekedar prawacana. Sebelum berbicara lebih lanjut mengenai hak atas kematian dan menghadirkannya, perlu kiranya kita berbicara lebih lanjut mengenai kematian dalam sistem etika dan nalar Islam.



[1] Tulisan ini pernah dipublikasikan di jurnal Kacamata Fak. Filsafat UGM Yogyakarta, vol. 01/2008.
[2]  Lingkungan dalam arti luas: mulai keluarga, masyarakat sekitar, hingga negara.


Share this

0 Comment to "Hak Menghadirkan Kematian (1)"